Ditulis pada tanggal 5 Juli 2018, oleh Dyah Sushanty, pada kategori News

Tiga mahasiswa FTP UB berhasil ciptakan alat untuk meningkatkan mutu gizi beras dengan memanfaatkan proses pengolahan beras pratanak. Alat ini diciptakan oleh Novemi Inka Rayna sebagai ketua tim, Choirima Ulfa Rusnia, Moh. Fariq dibawah bimbingan Endrika Widyastuti S.Pt., M.Sc., MP. Pembuatan alat ini bertujuan untuk mengikuti ajang PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Penciptaan alat ini dilatar belakangi oleh banyaknya kandungan nutrisi pada beras yang terbuang akibat perlakuan pasca panen seperti penggilingan. Dilain sisi, beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia sehingga beras memiliki peranan cukup besar untuk menyuplai nutrisi pada tubuh. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memaksimalkan nutrisi pada beras.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan nutrisi pada beras melalui proses pengolahan beras pratanak.  Pengolahan beras pratanak terdiri dari tiga tahapan yaitu perendaman, pengukusan, dan pengeringan. Ketiga tahapan proses tersebut menyebabkan kandungan nutrisi pada kulit gabah akan berdifusi kedalam beras sehingga kandungan gizi dapat meningkat. Proses perendaman, pengukusan dan pengeringan langsung dapat dilakukan dengan menggunakan ARSI berbeda dengan alat konvensional yang sudah ada dimana harus dilakukan secara terpisah.  Dalam penerapannya, ARSI menggunakan temperatur kontrol untuk mendeteksi suhu yang digunakan dalam proses pengolahan dimana saat suhu tidak sesuai maka alat otomatis berhenti bekerja dan saat suhu telah sesuai maka alat dapat bekerja kembali secara normal. “Pengontrolan suhu perlu dilakukan karena jika suhu tidak sesuai seperti saat pengukusan maka proses pengukusan tidak dapat berjalan dengan maksimal sehingga proses gelatinisasi sebagian pada beras tidak dapat tercapai” papar Novemi.

ARSI memiliki beberapa keunggulan diantaranya seperti mudah dalam pengoperasian sehingga tidak memerlukan pengawasan intensif dari petani, dilengkapi timer dan temperatur kontrol untuk mengatur otomatisasi alat, produk beras yang dihasilkan lebih higienis dibandingkan beras pratanak konvensional serta memerlukan waktu yang lebih singkat dalam proses pengolahannya.

Proses pengelohan beras pratanak dengan ARSI juga dapat menghasilkan produk beras dengan kandungan pati resisten. Hal ini dikarenakan proses pengukusan menyebabkan beras mengalami gelatinisasi sebagian dan proses pengeringan menyebabkan beras mengalami retrogradasi sehingga dapat terbentuk pati resisten yang mana pati resisten ini mampu menurunkan indeks glikemik beras sehingga cocok untuk penderita diabetes.  Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, diharapkan ARSI mampu menjadi solusi untuk membantu meningkatkan mutu gizi beras. Peningkatan mutu gizi tersebut dapat membantu Indonesia dalam melaksanakan program SDGs.