News

Pakar Bioeconomy Eropa, Asia dan Australia Bahas Isu Global di FTP UB dalam ICGAB 2017

Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya melaksanakan konferensi dunia “International Conference on Green Agroindustry and Bioeconomy (ICGAB) 2017, Selasa – Rabu (24-25/10/2017) di Gedung Widyaloka UB dan Singhasari Resort Batu. Menghadirkan keynote speaker Ir. Siswa Setyahadi Ph.D. (Ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia), Ir. Nono Rusono (BAPPENAS), Elis Heviati, ST. (Kementerian Energi, Sumberdaya Alam dan Mineral (ESDM) Republik Indonesia), Assoc Prof. Mark Tuner (University of Queensland Australia), Asst Prof. David Strik (Wageningen University and Research Belanda) serta Prof. Hiroyuki Sakakibara (Miyazaki University Jepang), forum ilmiah ini diikuti sekitar 150 delegasi Indonesia, Thailand, Vietnam, Turki, India, Jepang, Perancis, Belanda dan Australia.

Ketua ICGAB 2017 sekaligus Wakil Dekan I FTP bidang Akademik, Agustin Krisna Wardani, STP.MSi.Ph.D. menjelaskan,”Forum ilmiah yang mempertemukan para pakar dari berbagai belahan dunia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak, baik mahasiswa, akademisi, praktisi industri, serta pembuat kebijakan mengenai potensi yang ditawarkan bioeconomy. Perlu diketahui bahwa bioekonomi merupakan konsep strategi pengembangan berkelanjutan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang melibatkan pemanfaatan teknologi terhadap renewable dan non-renewable resources untuk menghasilkan produk berbasis biologi dengan mengutamakan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati dan lingkungan,” papar Dr. Agustin yang juga merupakan peneliti bidangĀ biotechnology.

Senada dengan Ketua ICGAB 2017, Dekan FTP, Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M.App.Sc. mengatakan,”FTP terus menerus berusaha berkontribusi dalam menemukan solusi berbagai masalah nasional melalui penelitian, pengembangan teknologi, permesinan dan pengabdian masyarakat untuk mendidik masyarakat di luar universitas. Seperti banyak negara lain di dunia, Indonesia menghadapi masalah nasional yang diantaranya adalah ketahanan dan keamanan pangan, pengelolaan limbah dan pengembangan sumber energi terbarukan serta degradasi lingkungan. Bioeconomy merupakan salah satu konsep yang sangat strategis sehingga forum ilmiah ini dapat menjadi salah satu alternatif solusi bagi permasalahan global. Forum ini juga merupakan salah satu implementasi visi misi dan rencana strategis FTP yang bertujuan untuk menjadi fakultas yang unggul di bidang teknologi pertanian yang dikenal dan diakui nasional maupun internasional serta memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan nasional di Indonesia melalui tri dharma perguruan tinggi,” demikian Dr. Sudarminto yang juga menjabat sebagai ketua Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi – Teknologi Pertanian Indonesia (FKPT-TPI 2017-2019) ini menjelaskan.

Selain konferensi ilmiah tentang pangan, limbah dan energi terbarukan, International Conference on Green Agroindustry and Bioeconomy (ICGAB) 2017 juga memamerkan sejumlah inovasi mahasiswa dan Research Group Universitas Brawijaya seperti Agroindustri Palma, PPPPI, Bioproses Limbah, Rekayasa Lingkungan, Mexma, Asmat, PSEEMRG, Bravo Energeobhas, SMONAGENES, BIODET-VAKSIN, HAL-Q ID, Monster, Coboy, B-PROTECT, Pilator, M-NAFER, Inuvine, Etrovoice, Normex, Smart Comic serta International Office UB. (dse)

 

 

Dosen TEP Berlatih Membuat Sabun

Jurusan Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Sabun Padat dan Cair bagi Dosen, Jumat (20/10/2017) di laboratorium Teknologi Proses Pengolahan Hasil Pertanian. Menghadirkan narasumber Saptini Mukti Rahajeng, MSi. dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Malang, kegiatan ini diikuti sekitar 30 dosen di lingkungan Jurusan Keteknikan Pertanian.

Dalam paparannya Saptini menjelaskan bahwa sabun merupakan campuran dari asam lemak dan alkali yang melalui proses saponfikasi. Saponifikasi merupakan suatu proses yang mereaksikan asam lemak dengan natrium atau kalium hidroksida untuk menghasilkan garam asam lemak atau sabun dan gliserol atau gliserin. Untuk menghasilkan sabun padat/batang membutuhkan NaOH, sementara KOH digunakan dalam pembuatan sabun cair.

“Sebenarnya metode pembuatan sabun ini ada tiga cara yaitu cold process, hot process dan melt and pour. Kali ini kita akan bersama sama membuat sabun dengan menggunakan metode hot process. Pertama panaskan 350 gram asam stearat dalam panci steanless hingga mencair sempurna. Lalu masukkan minyak sawit/kelapa dan minyak jarak kemudian aduk hingga homogen. Setelah larutan homogen lalu masukkan berturut turut zaitun, gliserin, larutan A (300gr NaOH, 700ml air, 375gr gula) dan larutan B (225ml air, 150gr asam sitrat dan 10gr garam) lalu aduk hingga homogen. Matikan api. Masukkan alkohol lalu aduk hingga homogen. Masukkan bakal sabun tersebut dalam wadah dan diamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, lalu cairkan kembali bakal sabun yang sudah memadat tersebut dan masukkan minyak sereh wangi (bahan aktif). Kemudian diamkan kembali selama 24 jam hingga sabun siap dikemas,” pungkasnya. (dse)

Jadwal UTS Ganjil 2017-2018

Jadwal Ujian Tengah Semester Ganjil 2017 – 2018 di lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya dapat dilihat pada tautan ini.