Ditulis pada tanggal 8 September 2017, oleh Dyah Sushanty, pada kategori News

Unit Layanan Bahasa Inggris (ULBI) bekerja sama dengan LKM English for Specific Purposes (ESP) Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya mengadakan talkshow “Doctoral Scholarship Sharing Session”, Jumat (08/09/2017) di Aula FTP lantai II mulai pukul 08.00 WIB. Menghadirkan para doktor peraih beasiswa bergengsi internasional, talkshow yang dibuka langsung oleh Wakil Dekan I bidang Akademik FTP, Agustin Krisna Wardani, STP.MSi. Ph.D. ini tampak dipadati sekitar 100 dosen dari berbagai universitas se-Jawa Timur.

Para narasumber tersebut adalah Ika Nurhayani, S.S., M.Hum., Ph.D. (Fulbright Presidential Scholarship Awardee), Dr. Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP, MT,M.Eng (Monbukagakusho Awardee), Dr. Ir. Ani Nurgiartiningsih, MSc. (German Academic Exchange Service/ Deutscher Akademischer Austauschdienst Awardee), Dias Satria, SE.,M.App.Ec, Ph.D. (Australia Award Scholarship Awardee) serta  Wenny Bekti Sunarharum, STP. M. Food St, Ph.D. (Endeavor Scholarship Awardee).

Selain penjelasan secara umum terkait beasiswa termasud diantaranya adalah prosedur dan persyaratan yang diperlukan, sharing pengalaman pribadi awardee (peraih beasiswa-red) mempersiapkan beasiswa dan studi lanjut di negara tempat tujuan studi dibahas pula tips dan trik mendapatkan beasiswa dan letter of acceptance dari universitas tujuan. Kelima narasumber sepakat bahwa konten serta penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar pada essay/proposal pengajuan beasiswa merupakan salah satu kunci sukses meraih letter of acceptance. Selain itu semangat pantang menyerah juga merupakan salah satu kiat sukses lolos beasiswa.  “Saya sudah tiga kali mengajukan beasiswa Fulbright, tapi baru yang terakhir yang sukses diterima di Cornell University – USA. Jadi jangan pantang menyerah. Kemudian jangan lupa untuk mencari dan menghubungi supervisor yang usahakan sudah bergelar profesor. Usahakan pula profesor ini Indonesianist atau memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Gunakan email yang disertai cv singkat dengan konten maupun penggunaan bahasa Inggris yang sopan, baik dan benar. Jadi sebelum dikirim, baca dulu, cari reviewer yang kompeten. Karena email itu adalah kontak pertama anda dengan dunia, jadi tidak boleh asal asalan,” papar Ika Nurhayani, S.S., M.Hum., Ph.D. peraih Fulbright Presidential Scholarship di Cornell University – USA.

Senada dengan Dr. Ika, Dr. Ir. Ani Nurgiartiningsih, MSc. yang merupakan peraih DAAD Scholarship menuturkan,”Jangan pantang menyerah. Tidak ada beban yang terlalu berat selama kita mau berusaha (berdoa dan bekerja) dengan keras. Dengan kuliah di luar negeri, akan memperkaya diri kita sebagai individu. Selain wawasan yang makin terbuka, inshaAllah etos kerja dan disiplin kita juga akan meningkat sepulang dari luar negeri,” paparnya Dr. Ani yang merupakan Wakil Dekan II Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya ini.

Ditambahkan Dr. Wenny,” Selalu belajar dan keep motivated. Jangan takut gagal dan jangan takut menyerah. Kebetulan beasiswa saya, Endeavor hanya mengcover maksimal 12.500 dolar, padahal tuition fee saya 15.000 , nah kalau kita udah keder duluan mau gimana? Tapi alhamdulilah berkat doa dan usaha, kampus saya School of Agriculture and Food Science University of Queensland, menggratiskan sisanya, jadi saya tidak perlu membayar 2.500 dolar per semester lagi. Jadi jangan pernah menyerah. Ayo semangat dan percayalah, kuliah di luar negeri itu menyenangkan. Namun jangan lupa untuk tetap serius. Salah satu kunci sukses beasiswa adalah mengikuti semua langkah langkah dan peraturan yang ada. Jangan bosan membuka situs penyedia beasiswa dan universitas tujuan. Review and ensure your proposal again and again. Finally, yakinlah pasti keterima,”pungkas Dr. Wenny yang semasa berkuliah di Australia pernah meraih An Inspirational Alumni Award 2010 serta Hadi Soesastro Prize 2015. (dse)