Ditulis pada tanggal 11 Agustus 2017, oleh Dyah Sushanty, pada kategori News

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya kembali membawa kabar membanggakan. Dua karyanya terpilih dalam Program 109 Inovasi Indonesia tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Business Innovation Center (BIC) didukung oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tingggi. Keputusan ini diumumkan dalam peringatan Hari Teknologi Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus.

Setelah melalui proses penilaian oleh 36 juri yang menilai 12 kategori teknologi, kedua karya para mahasiswa inovator FTP yang terpilih tesebut adalah “AUTHOR (Automatic Bee Propolis Heat Ekstraktor) Inovasi Rancang Bangun Ekstraktor Propolis Berbasis ReHeater (Resistive Heating With Vacuum Filter)” dan  “ETROVICE (Electroculture Vegetable Device) Teknologi Tepat Guna Berbasis Cahaya Monokrom dan Sonic Bloom untuk Meningkatkan Laju Produktivitas Sayuran di Indonesia”. Keduanya merupakan penelitian mahasiswa dibawah bimbingan Joko Prasetyo, STP.MSi., dosen Keteknikan Pertanian FTP UB.

AUTHOR (Automatic Bee Propolis Heat Ekstraktor) merupakan suatu penelitian karya Annisa Aurora Kartika (THP 2015), Rio Bangga Indriawan (TEP 2015), Ahmed Alwy Al Azmi (TEP 2014), Vindy Septian A.K. (TEP 2014) serta Nada Mawarda Rilek (TIP 2013). AUTHOR mengkolaborasikan teknologi pemanasan resistive heating dengan vakum filter secara otomatis yang sangat efektif diaplikasikan pada ekstraksi propolis di peternakan lebah madu. AUTHOR mampu memangkas waktu yang diperlukan pada ekstraksi propolis dari 72 jam menggunakan metode konvensional hingga hanya menjadi 6 jam berkat inovasinya.
Sementara ETROVICE (Electroculture Vegetable Device) adalah penelitian karya Sintya Laylie M (FTP, 2015), Danar Wicaksono (FTP, 2014), Khurun In Nur K (FTP, 2014), dan Aziz Iman W (FTP, 2014). ETROVICE merupakan suatu inovasi yang sangat membantu permasalahan petani Indonesia mengatasi gagal panen.  Etrovice yang memadukan cahaya monokromatik dari lampu LED merah dan biru dengan sonic bloom akan mampu mempercepat masa panen sekaligus menjaga kualitas sekaligus meningkatkan kuantitas sayuran. Hal ini dikarenakan adanya cahaya monokromatik dari lampu LED dan panel surya  yang mempercepat proses fotosintesis di malam hari serta penggunakan sonic bloom bergelombang suara pada frekuensi 3000-5000 Hz yang dapat membuka stomata daun lebih lebar dibandingkan dengan biasanya. Uniknya musik yang digunakan pada sonic bloom ETROVICE ini adalah alunan gamelan “Kebo Giro” yang biasanya lazim terdengar pada upacara pernikahan tradisional Jawa.
Joko Prasetyo, STP.,MSi sang dosen pembimbing menanggapi,”Saya tidak menyangka karya mahasiswa bimbingan saya dapat bersaing di tingkat nasional. Apalagi event ini tidak terbatas hanya untuk mahasiswa. Saya bangga adik adik bisa bersaing dengan dosen, inovator maupun para peneliti lain se-Indonesia. Selamat untuk adik adik mahasiswa. Ini membahagiakan sekaligus pertanda untuk makin mengembangkan diri lebih baik. Jangan pernah lelah mencoba untuk terus belajar dan berinovasi sebab masyarakat masih menunggu dharma bakti kita semua. Sekali lagi selamat untuk adik adik, dan tetap semangat,” pungkasnya. (dse)