Ditulis pada tanggal 10 Oktober 2014, oleh Dyah Sushanty, pada kategori News

IMG_5431Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) menyelenggarakan rangkaian kuliah tamu “Packaging Technology and Management” di Aula Gedung F FTP lantai II, Senin – Kamis (06-09/10/2014). Narasumber acara ini adalah pakar teknologi pengamasan bertaraf dunia, Associate Professor Panuwat Supakul, Ph.D.  dari Department of Packaging and Materials Technology – Kasetsart University, Thailand.

Dipaparkan Sakunda Anggarini, STP. MP.M.Sc. bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wacana keilmuan terkini seputar manajemen teknologi pengemasan serta membuka jalan akan kerja sama antar institusi dua negara. “Kami sengaja mengundang pakar dari Kasetsart University Thailand dalam kegiatan ini untuk membahas isu isu terkini dunia internasional dibidang manajemen dan teknologi pengemasan. Selain itu harapannya kegiatan ini dapat menginisiasi joint research antara FTP UB dan Kasetsart University Thailand,”jelasnya.

Dalam sambutannya ketika membuka seminar, Dekan FTP, Dr. Ir. Bambang Susilo, M. Sc. Agr. menyatakan bahwa  masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) telah di depan mata. Sehingga seiring dimulainya AEC pada tahun 2015 ini berarti kolaborasi pendidikan tinggi ASEAN juga harus dimulai. “Khusus untuk pendidikan dibidang teknologi pertanian kita punya sebuah konsorsium bernama AUCFA (ASEAN University Consortium on Food and Agro-based Engineering Education).  AUCFA didirikan di Bogor 2012 dan lokakarya kedua 2013 dilaksanakan di Bangkok. Pada lokakarya berikutnya yang diselenggarakan pekan depan di IPB Bogor. kami akan mengirimkan empat delegasi. Berdasarkan Gross Enrollment Index (GEI, GER) diketahui jumlah lulusan SMA Indonesia yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 33%, tetapi kenyataannya banyak siswa yang mendaftar di FTP UB dengan perbandingan 1:14. Saat ini kami memiliki lebih dari 3300 mahasiswa strata satu, 100 mahasiswa pasca sarjana dan 4 program doktoral,” jelas Dr. Bambang Susilo.

“Kebetulan beberapa tahun yang lalu, ketika menghadiri sebuah seminar dan workshop di salah satu negara Uni Eropa, ada kesempatan mengunjungi perusahaan multinasional pertanian yang menghasilkan biji-bijian hasil rekayasa rekayasa genetika (GMO). Ternyata produk GMO mereka dikirim ke negara berkembang tetapi dilarang dikonsumsi di negara maju seperti Jerman, Perancis serta semua anggota Uni Eropa. Ini merupakan hal yang serius, tidak hanya bagi negara berkembang seperti Indonesia dan Thailand tetapi juga akan menjadi masalah dengan hubungan antar negara maupun kemanusiaan. Biasanya masyarakat negara berkembang tidak tahu efek produk Transgenik, hingga kami tekankan produk GMO (GENETICALLY MODIFIED ORGANISM /organisme hasil rekayasa genetika-red) pada kuliah tamu kali ini.
Kami harap pada kesempatan ini kita dapat mendiskusikan banyak hal seputar kemasan. Tidak saja terkait dengan pasar sebagai tujuan, tetapi juga kemasan sebagai sarana komunikasi jujur ​​antara produsen konsumen dalam kaitannya dengan keamanan pangan,”tambahnya kemudian dihadapan sekitar 300 undangan dari kalangan dosen FTP serta mahasiwa TIP (sarjana dan pasca sarjana) yang hadir.MG_5487

Dalam materinya Prof. Panuwat banyak menjelaskan tentang menjelaskan kemasan cerdas dan aktif sebagai suatu teknologi penting dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Kemasan aktif bertujuan untuk memperpanjang umur simpan dan memfasilitasi pengolahan serta konsumsi pangan. Selain itu kemasan cerdas mampu memantau dan menyajikan informasi kualitas pangan terkemas melalui indikator waktu (temperature indicator), identifikasi frekuensi radio, indikator kematangan serta biosensor. Dalam perancangannya, kemasan cerdas dan aktif ini akan disesuaikan dengan sifat makanan yang akan dikemas untuk mengurangi biaya produksi atau mengontrol kualitas produk.

Penjelasan terperinci dimulai dari bahan kemasan dalam materi “Polymeric Packaging Material”. Polimer merupakan salah satu bahan yang umum digunakan pada pengemasan. Hal ini antara lain karena memliki bentuk yang fleksibel sehingga mudah mengikuti bentuk pangan yang dikemas, berbobot ringan, tidak mudah pecah, bersifat transparan/tembus pandang, mudah diberi label dan dibuat dalam aneka warna, dapat diproduksi secara massal serta yang tak kalah penting adalah harganya relatif murah. Selain membahas polimer sebagai bahan kemasan, Prof. Panuwat juga menjelaskan tentang proses pembuatan kemasan plastik bebentuk botol pada materi berjudul “Blow Molding” dimana hasil proses ekstrusi akan dikembangkan dengan mekanisme cetakan oleh tekanan gas dan peniupan.  Selain itu, ada pula materi tentang “Edible Packaging”.Edible film merupakan lapisan tipis yang melapisi suatu bahan pangan dan layak dimakan, digunakan pada makanan dengan cara pembungkusan atau diletakkan diantara komponen makanan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas makanan, memperpanjang masa simpan, meningkatkan efisiensi ekonomis, menghambat perpindahan uap air. Pada beberapa kasus, sifat mekanis edible film mampu menggantikan kemasan sintetis dengan baik. (dse)