Ditulis pada tanggal 12 Juli 2017, oleh Dyah Sushanty, pada kategori News

Berdasarkan data BPOM tahun 2015, sebanyak 37% produk pertanian dari 170 jenis komoditas ekspor Indonesia dibidang pertanian mendapat penolakan Uni Eropa karena masalah keamanan pangan. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pada aspek mutu dan keamanan pangan yang juga menjadi kendala produksi dan pemasaran buah-buahan Indonesia. Inilah yang melatari kelima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya; Dimas Triardianto (TEP 2014), Bagus Wisnu Wardhani (TEP 2014), Singgih Mahardika Nugroho (TEP 2013), Casilda Aulia Rakhmadina (THP 2014), dan Faidiatul Andika Nuriah (THP 2014) dibawah bimbingan Dewi Maya Maharani, STP., M.Sc., menciptakan MAZTER (Automatic Ozone Sanitizer) sebagai alat pencuci dan penyimpan buah.

Mazter rancangan kelima mahasiswa FTP ini memiliki teknologi Dielectric Barrier Discharge secara otomatis untuk menghasilkan ozon guna mempertahankan kadar kualitas buahan buahan. Selain itu alat ini juga mempunyai ruang penyimpan buah yang dilengkapi dengan sterilizer sehingga makin mengoptimalkan kerja MAZTER dalam mempertahankan kualitas mutu pada buah. Singgih Mahardhika, salah satu anggota tim menuturkan,” Sebenarnya banyak sekali buah buahan Indonesia yang unik dan bergizi, bahkan beberapa buah buahan itu hanya terdapat di negara kita. Sayangnya produksi dan pemasaran para petani buah masih terkendala beberapa hal yang salah satunya adalah keamanan pangan sehingga sulit bersaing di pasaran luar negeri. Kami mencoba mengatasi hal ini melalui Mazter. Sebenarnya prinsip kerja Mazter relatif sederhana, karena kami hanya menggabungkan kulkas dan alat pencuci. Jadi ibaratnya alat kami ini memiliki fungsi ganda, selain pencuci buah juga sekaligus penyimpan sehingga lebih efisien. Selain itu Mater memiliki keunggulan lain yang diantaranya adalah prosesnya dapat diatur secara otomatis, konsumsi energi rendah serta mengurangi penggunaan zat-zat kimia. Proses penggunaan mazter juga relatif mudah. Setelah proses pencucian selama sepuluh menit, buah akan disimpan dalam ruang penyimpan yang secara otomatis akan dialiri ozon selama 24 jam sekali guna proses sterilisasi. Uji laboratorium yang kami lakukan membuktikan mazter dapat memperpanjang umur simpan serta menghilangkan bakteri, jamur, dan cemaran pestisida yang ada pada buah-buahan,” paparnya.

Kelima mahasiswa ini berharap, Mazter  yang dibuat untuk mengembangkan teknologi dibidang produksi buah-buahan berbasis Dielectric Barrier Discharge dapat menjadi solusi efektif pada maraknya kontaminasi mikroba pada buah sehingga menyebabkan mudah rusak dan busuk. Selain itu, diharapkan Mazter yang telah mengikuti konferensi nasional dan internasional ini dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan, khususnya pada buah-buahan di Indonesia. (dse)