Ditulis pada tanggal 20 Mei 2017, oleh Dyah Sushanty, pada kategori Kegiatan, News

SLURYQoirul, Safrizal, Delia, Devi, dan Dilla adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian yang melaksanakan program untuk mengoptimalkan potensi limbah slurry menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis. Slurry dijadikan sebagai media utama dalam proses budidaya cacing, budidaya sayuran dan pembuatan pupuk cair. Dusun Bendrong, Desa Arjosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, merupakan salah satu wilayah pedesaan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki 77 instalasi biogas yang merupakan program dari pemerintah. Pengolahan limbah yang dilakukan berbasis Integrated Farming System yaitu dengan menggabungkan dua sektor yaitu peternakan dan pertanian. Sasaran utama dari program yang diusulkan oleh ke-5 mahasiswa FTP ini

Pada penerapannya, slurry atau limbah biogas diperas dengan menggunakan alat press untuk memisahkan padatan dan cairan. Padatan slurry inilah yang dijadikan media tumbuh cacing. Setelah diperas, padatan slurry kemudian diangin-anginkan untuk menghilangkan gas metana yang masih tersisa karena untuk media tumbuh cacing padatan slurry harus terbebas dari gas metana. Cairan yang dihasilkan dari proses pemerasan ditampung untuk dijadikan pupuk cair agar dapat memberikan manfaat dan tidak terbuang begitu saja, papar Qoirul.

Dari proses budidaya cacing selain mendapatkan penghasilan juga menghasilkan kascing (kotoran cacing) yang dapat dijadikan sebagai kompos untuk budidaya sayuran dan juga dikemas lalu dipasarkan sehingga bernilai ekonomis. Tidak hanya berhenti pada proses budidaya cacing, kelima mahasiswa ini juga membuka mitra untuk membantu dalam hal  pemasaran cacing setelah di panen. Dengan begitu warga dusun Bendrong tidak mengalami kesulitan dalam memasarkan cacing tersebut.

Inovasi budidaya cacing dengan memanfaatkan limbah slurry sebagai medianya, berawal dari produksi slurry setiap harinya sangat melimpah akan tetapi pemanfaatannya masih belum optimal yaitu hanya dimanfaatkan sebanyak 25%. “Karena Slurry yang dihasilkan setiap harinya dibuang dan dialirkan di sungai, papar Safrizal. Slurry yang dibuang di sungai terdiri dari komponen padat dan cair sehingga komponen padat menggunung dan menyebabkan tersumbatnya aliran sungai. Selain itu, juga mengganggu ekosistem sungai dan keindahan lingkungan.

“Kami ingin mengubah pola fikir masyarakat di daerah dusun Bendrong bahwa Slurry akan menjadi sumber pendapatan baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika pemanfaatannya dilakukan secara optimal papar ke 5 mahasiswa tersebut. Produk yang dapat dihasilkan remaja masjid Dusun Bendrong melalui program OASIS adalah cacing, pupuk cair, pupuk kascing, dan sayuran. Dari produk-produk tersebut harapannya dapat menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan.(dse)