Biogas dalam Transformasi dan Perspektif

Kultam Internasional Bioindustri TIP
Desember 11, 2013
Tim “Predator” FTP Raih Juara II Olimpiade Sains Nasional
Desember 16, 2013

Biogas dalam Transformasi dan Perspektif

Dr. paweniDi saat  limbah industri semakin banyak dan masalah pencemaran kian signifikan, Biogas memainkan peran strategis dalam konteks keberlanjutan manusia dan lingkungannya. Produksi gas dihasilkan dari fermentasi anaerobik bahan organik ini dianggap sebagai cara jitu menanggulangi pencemaran lingkungan sekaligus menghasilkan sumber energi bersih yang potensial dan bernilai ekonomis.

Produksi gas dengan kandungan  gas metana (CH4) 60-70 persen, karbon dioksida (CO2) 20-25 persen, selebihnya hidrogen sulfida dan nitrogen  (NO2) ini,  sangat potensial  dikembangkan. Banyak negara di Asia, sebut saja India, Cina dan Thailand, telah mengembangkan biogas sebagai salah satu sumber energi terbarukan atau Biomassa. Sebagai alternatif mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.

Di Thailand, Pemerintah dan investor telah serius menggarap mega proyek energi berteknologi Anaerobic Digester menggunakan bakteri non Methanogenic maupun mikro organisme Methanogens Acetoclastic dan Hydrogenophilic ini. Investasipun digelontorkan secara ekstensif dalam pengembangan infrastruktur dan teknologi biogas sebagai sediaan bahan bakar bagi warganya.

Demikian diungkapkan Dr. Pawinee Chaiprasert dari Excellent Center of Water Utilization and Mangament (eco Waste) School of  Bioresurces and Tecnology, King Mongkut’s University of Tecnology Chonburi, Thailand  saat memberi kuliah tamu internasional Bioindustri di Aula Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Rabu (11/12) siang.

Langkah-langkah mentransformasi biogas agar dapat menarik minat kalangan pelaku industri terus gencar dilakukan dalam tiga aspek secara stimulan. Antara lain, mengoptimalkan desain digester dari sisi ukuran yang disesuaikan dengan keterbatasan lahan, bentuk dan unsur estetika sehingga terlihat serasi dengan lingkungannya. Serta kepraktisan pemeliharaan, mengingat kemungkinan mata pencaharian pengguna digester ini bukan petani atau peternak.

“Kemudian memperbanyak variasi bahan baku, untuk mengeksplorasi kemungkinan menggunakan limbah padat kota di samping limbah-limbah pertanian. Selain itu konversi biogas menjadi listrik, karena listrik lebih fleksibel daripada biogas untuk keperluan sehari-hari dalam suatu masyarakat moderen ” ujarnya.

Diungkapkan Pawinee, potensi sumber bahan baku biogas demikan melimpah di Thailand juga mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan ini.  Peningkatan signifikan demand susu dan daging di Thailand, perubahan pola pengembangan agribisnis peternakan menjadi  menengah dan besar. Di beberapa daerah telah berkembang  koperasi susu, peternakan sapi pedaging melalui kemitraan dengan perkebunan sawit, dsb. Kondisi tersebut amat  mendukung ketersedian bahan baku secara kontinyu dalam jumlah yang cukup untuk memproduksi biogas.

”Meskipun demikian,  sumber  bahan baku  biogas seperti limbah cair industri, kotoran ternak babi dan sapi, serta sampah organik rumah tangga juga hasil perkebunan yang melimpah tersebut belum semuanya teroptimalkan,” tuturnya.

Contohnya saja, paparnya lebih lanjut,  limbah dari tujuh industri utama di Thailand seperti pabrik, ethanol, minyak sawit mentah, pengalengan tuna, pengalengan nanas, pabrik gula dan rumah penyembelihan hewan (RPH)  ketersediaannya sebesar 1,005Mm3/y tapi pengunaanya hanya 360Mm3/y.

Sedangkan kotoran ternak sapi dan babi tersedia 1060 Mm3/y namun dioptimalkan hanya 175 Mm3/y saja. Sementara ketersediaan limbah organik sebesar 870 Mm3/y dan penggunaanya hanya 30 Mm3/y

Inovasi yang telah dilakukan dalam proses pengolahan yakni menggunakan teknologi High Rate Anaerobic Reactor (HRAR) antara lain, Upflow Anaerobic Sludge Blanket, Fluidize Bed Reactor, Filter Reactor, Fixed Film reactor dan Hybrid Reactor.

Aplikasi teknologi biogas Fixed Film Reactor telah digunakan pada pabrik tepung beras Bangkok Interfood. Co. Ltd. Pada pabrik tepung tapioka di Thailand seperti Chonchareon. Co. Ltd,  Asia Fructose. Co.Ltd, Sima InterProduct. Co.Ltd.. Serta industri makanan antara lain, Seng-ong Hong. Co. Ltd., Rama Food. Co. Ltd dan Chotiwat Manufactoring. Co.Ltd

Transformasi teknologi biogas metode Anaerobic Hybrid Reactor yang telah dilakukan pada pabrik pengolahan kelapa sawit di Thailand, Thachana Palm Oil Co. Ltd menghasilkan bahan organik 29 ton COD/hari, biogas 11.760m3/hari, konversi energi listrik sebesar 27.560 kWh/hari sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan 20 ton/hari.

“Kunci kesuksesan pengembangan teknologi biogas ini terletak pada kebutuhan pelaku industri, sistem insentif dengan pinjaman lunak, dukungan pemerintah, tata kelola yang baik dan teknologi yang aplikatif serta kemauan untuk belajar dan memberikan solusi dari semua pihak,” pungkasnya

Disaat kuantitas limbah industri semakin banyak dan masalah pencemaran kian yang signifikan, telah diakui Biogas memainkan peran yang sangat strategis dalam konteks keberlanjutan manusia dan lingkungannya. Produksi gas metana yang mencapai 60-70 persen, karbon dioksida 20-25 persen, serta selebihnya hidrogen sulfida dan nitrogen yang dihasilkan sebagai produk sampingan fermentasi anaerobik ini dianggap cara jitu untuk penanggulangan pencemaran lingkungan dan menghasilkan sumber energi bersih terbarukan yang potensial bernilai ekonomis.

Banyak negara di Asia, sebut saja India, Cina dan Thailand, telah mengembangkan biogas sebagai salah satu sumber energi terbarukan atau Biomassa. Menjadikannya salah satu energi aternatif mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.

Biogas menggunakan teknologi Anaerobic Digester, baik dengan bakteri non Methanogenic maupun mikro organisme Methanogens Acetoclastic dan Hydrogenophilic ini sangat potensial untuk dikembangkan. Saat ini , pemerintah dan investor Thailand tengah serius menggarap mega proyek energi biogas. Investasipun digelontorkan secara ekstensif dalam pengembangan infrastruktur dan teknologi biogas untuk menyediakan bahan bakar bagi warga mereka.

Demikian diungkapkan Dr. Pawinee Chaiprasert, Excellent Center of Water Utilization and Mangament (eco Waste) School of Bioresurces and Tecnology, King Mongkut’s University of Tecnology Thonburi, Thailand  saat memberi kuliah tamu internasional Bioindustri di Aula Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Rabu (11/12) siang.

Langkah-langkah mentransformasi biogas agar dapat menarik minat kalangan pelaku industri terus gencar dilakukan dalam tiga aspek secara simultan. Antara lain, mengoptimalkan desain digester dari sisi ukuran yang disesuaikan dengan keterbatasan lahan, bentuk dan unsur estetika sehingga terlihat serasi dengan lingkungannya, serta kepraktisan pemeliharaan, mengingat kemungkinan mata pencaharian pengguna digester ini bukan petani atau peternak.

“Kemudian memperbanyak variasi bahan baku, untuk mengeksplorasi kemungkinan menggunakan sampah-sampah rumah tangga di samping limbah-limbah pertanian. Selain itu konversi biogas menjadi listrik, karena listrik lebih fleksibel daripada biogas untuk keperluan sehari-hari dalam suatu masyarakat moderen ” ujarnya.

Diungkapkan Pawinee, potensi sumber bahan baku biogas demikan melimpah di Thailand juga mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan ini.  Peningkatan signifikan demand susu dan daging di Thailand, perubahan pola pengembangan agribisnis peternakan menjadi  menengah dan besar. Di beberapa daerah telah berkembang  koperasi susu, peternakan sapi pedaging melalui kemitraan dengan perkebunan sawit, dsb. Kondisi tersebut amat  mendukung ketersedian bahan baku secara kontinyu dalam jumlah yang cukup untuk memproduksi biogas.

”Meskipun demikian,  sumber  bahan baku  biogas seperti limbah cair industri, kotoran ternak babi dan sapi, serta sampah organik rumah tangga juga hasil perkebunan yang melimpah tersebut belum semuanya teroptimalkan,” tuturnya.

Contohnya saja, paparnya lebih lanjut,  limbah dari tujuh industri utama di Thailand seperti pabrik, ethanol, minyak sawit mentah, pengalengan tuna, pengalengan nanas, pabrik gula dan rumah penyembelihan hewan (RPH)  ketersediaannya sebesar 1,005Mm3/y tapi pengunaanya hanya 360Mm3/y.Sedangkan kotoran ternak sapi dan babi tersedia 1060 Mm3/y namun dioptimalkan hanya 175 Mm3/y saja. Sementara ketersediaan limbah organik sebesar 870 Mm3/y dan penggunaanya hanya 30 Mm3/y

Inovasi teknolog biogas yang telah dilakukan dalam proses pengolahan yakni menggunakan teknologi High Rate Anaerobic Reactor (HRAR) antara lain, Upflow Anaerobic Sludge Blanket, Fluidize Bed Reactor, Filter Reactor, Fixed Film reactor dan Hybrid Reactor.

Aplikasi teknologi biogas Fixed Film Reactor telah digunakan pada pabrik tepung beras Bangkok Interfood. Co. Ltd. Pada pabrik tepung tapioka di Thailand seperti Chonchareon. Co. Ltd,  Asia Fructose. Co.Ltd, Sima InterProduct. Co.Ltd.. Serta industri makanan antara lain, Seng-ong Hong. Co. Ltd., Rama Food. Co. Ltd dan Chotiwat Manufactoring. Co.Ltd

Transformasi teknologi biogas metode Anaerobic Hybrid Reactor yang telah dilakukan pada pabrik pengolahan kelapa sawit di Thailand, Thachana Palm Oil Co. Ltd menghasilkan bahan organik 29 ton COD/hari, biogas 11.760m3/hari, konversi energi listrik sebesar 27.560 kWh/hari sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan 20 ton/hari.

Perpesktif yang perlu dikembangkan lagi di masa depan adalah optimasi dan modeling, proses kontrol, termasuk konfigurasi reactor, pre and post treament by product seperti kemungkinan pemulihan nutrisi pada sludge atau lumpur untuk kompos, peningkatan efisiensi dalam proses purifikasi biogas.

“Kunci kesuksesan pengembangan teknologi biogas ini terletak pada kebutuhan pelaku industri, sistem insentif dengan pinjaman lunak, dukungan pemerintah, tata kelola yang baik dan teknologi yang aplikatif serta kemauan untuk belajar dan memberikan solusi dari semua pihak,” pungkasnya. [elr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian