Biofrond, Pelepah Sawit sebagai Bahan Baku Bioetanol

Comic Siap Hadapi AFTA
Mei 12, 2015
Mahasiswa TEP Sulap Limbah Kulit Singkong jadi Bioetanol
Mei 15, 2015

Biofrond, Pelepah Sawit sebagai Bahan Baku Bioetanol

PUBLIKASIKetersediaan enegi fosil diberbagai belahan dunia diperkirakan akan habis dalam jangka waktu 25 tahun mendatang, sehingga kini mulai marak dikembangkan sumber energi alternatif pengganti energi fosil. Salah satu energi alternatif yang potensial dikembangkan adalah Bioetanol. Akan tetapi selama ini bietanol yang dibuat berbahan baku pati, sehingga bersaing dengan kebutuhan pangan. Padahal terdapat bahan non pangan yaitu biomassa yang mengandung lignoselulosa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.  Hal inilah yang menggerakkan keempat mahasiswa Fakultas Teknologi Petanian; Luristya Nur Mahfut (TIP 2013), Nada Mawarda Rilek (TIP 2013), Ameiga Cautsarina Putri Atrinto (TIP 2013) dan Mujaroh Khotimah (TEP 2011)  untuk turut  serta mengembangkan pembuatan membuat bioetanol bebahan baku non pangan.

Bahan non pangan mereka pilih adalah pelepah sawit sebagai salah satu limbah perkebunan sawit dengan kandungan selulosa cukup tinggi 30-33%, dan belum termanfaatkan sampai saat ini. Padahal dilihat dari potensi ketersediaannya, Indonesia merupakan negara yang memiliki luas perkebunan sawit mecapai 8,9 juta Ha dan setiap tahunnya mampu menghasilkan limbah pelepah sawit sebesar 300.375.000 ton. Akan tetapi mereka sadar bahwa dalam pembuatan bioetanol berbahan lignoselulosa memerlukan proses panjang  dan terdapat proses perlakuan awal sebagai kunci sukses dalam menghasilkan bioetanol berkualitas baik yaitu proses pretreatment, sehingga untuk langkah awal melalui Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) dibawah bimbingan Yusron Sugiarto STP, MP, MSc, Tim yang menamakan diri BIOFROND ini melakukan inofasi proses pretetment menggunakan metode Mekanik-Nano-Chemical.

Metode ini menggunakan kombinasi penggunaan bahan kimia dan juga energi mekanis yang dalam hal ini menggunakan nanoteknologi berupa sonikasi untuk memecah ikatan lignoselulosa. Sehingga dapat menghasilkan selulosa yang tinggi untuk bahan baku bioetanol. Dari penelitian yang mereka lakukan, melalui metoode Mekanic-Nano-Chemical ini mampu meningkatkan selulosa hingga kurang lebih 90%. Sehingga bahan baku pelepah ini menjadi sangat potensial untuk dijadikan bahan baku bioetanol berkualitas baik dan rendemennya tinggi.  Diharapkan nantinya dari penelitian ini akan dilanjutnya hingga menjadi produk bioetanol. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian