C-PROVINE, Penghilang Racun Pala Karya Mahasiswa FTP

Tingkatkan Keamanan Hasil Maritim, Mahasiswa Brawijaya Ciptakan Alat Penurun Kadar Logam Ikan
Juli 13, 2018
Nabu, Beras Artifisial untuk Atasi Kelaparan
Juli 15, 2018

C-PROVINE, Penghilang Racun Pala Karya Mahasiswa FTP

Komoditas ekspor unggulan Indonesia salah satunya adalah rempah biji pala (Myristica  fragrans houtt). Rempah ini dikenal memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena terkandung berbagai manfaat. Permintaan pala terus meningkat seiring dengan kebutuhan rempah-rempah dunia. Sebesar 99% Biji pala diproduksi oleh perkebunan rakyat, dimana sekitar 75% pala dunia berasal dari Provinsi Sulawesi Utara. pala yang diekspor biasanya dalam bentuk pala utuh dan bubuk serta dapat pula dalam bentuk fuli.

Berdasarkan data Kementrian Pertanian tercatat terjadi penurunan volume dan nilai ekspor pala Indonesia. Volume produksi pala pada tahun 2015 sebesar 17.027 Ton, namun terjadi penurunan yang signifikan nilai ekspor pala pada tahun 2016 sebesar 64.398 ribu US. Hal ini disebabkan oleh kontaminasi mikroorganisme yang bersifat toksik. Aflatoksin merupakan microoroganisme yang menjadi faktor utama kerusakan biji pala sekaligus menurunkan jumlah permintaan dunia terhadap pala Indonesia. Aflatoksin bersifat toksik diproduksi oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus.  Isu aflatoksin sudah mendunia sebab bahaya yang ditimbulkannya berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan manusia. Aflatoksin mengakibatkan aflatoksikosis pada manusia dengan menghirup atau mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi aflatoksin dalam kadar yang tinggi. Aflatoksikosis menjadi masalah serius di negara berkembang terutama di Asia dan Afrika. Selain itu,  Aflatoksin bersifat karsinogenik (penyebab kanker), mutagenic, dan dan immuno suppressive. Berdasarkan dampak karninogenik aflatoksin, setiap negara menetapkan angka standart kandungan aflatoksin dari komoditi impor yang sayangnya tidak dapat dipenuhi Indonesia meski merupakan produsen pala terbesar di dunia sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah ekspor.

Melihat fenomena tersebut, sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya melakukan suatu inovasi rancang bangun alat pengendalian kontaminasi aflatoksin sebagai penanganan pasca panen guna memperkuat proses ekspor pala. Teknologi yang di prakarsai Annisa Aurora Kartika (THP 2015), Ulfatu Mahmuda (THP 2016), dan Rio Bangga Indriawan (TEP 2015) diberi nama C-PROVINE. berbasis high electric pulse (HEP) dan dikombinasikan dengan sinar ultraviolet (UV-C) yang dapat menurunkan sejumlah aflatoksin hingga batas aman. Rancang bangun alat ini terdiri dari box HEP system, system control, storage box, dan ultraviolet systemHigh electric pulse (HEP) akan menghasilkan sejumlah gas Ozon yang dapat menekan jumlah aflatoksin. Mekanisme ozon (O3) dalam membunuh mikrobia yaitu ozon melakukan penyerangan pada dinding sel mengarah pada perubahan dalam permeabilitas dari sel dan dapat menyebabkan terjadinya lysis pada sel bakteri. Teknologi ini memiliki kelebihan diantaranya proses yang cepat sehingga biji pala tidak menurun kualitasnya, mampu mengurangi kadar aflatoksin sebesar 99,1% dalam 15 menit. C-Provine bersifat otomatis dengan dilengkapi sistem control yang memudahkan proses penurunan kadar aflatoxin Kemudian, untuk lebih mengoptimalkan penurunan jumlah aflatoksin pala digunakan sinar ultraviolet (UV-C) , sehingga diperoleh jumlah kandungan aflatoksin pala yang sesuai dengan standar masyarakat internasional.

Dengan adanya inovasi rancang bangun alat pengendali kontaminasi aflatoksi pala, diharapkan dapat mampu memperkuat proses ekspor pala Indonesia terlebih dapat meningkatkan nilai ekspor pala kedepannya. kemudian Dengan inovasi rancang bangun alat  C-PROVINE juga  diharapkan biji pala yang dihasilkan rendah aflatoksin dengan tetap mempertahankan rasa, tekstur, dan nutrisi biji pala.  Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian, Komoditas perkebunan (pala) merupakan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara Indonesia, yang dapat dilihat dari nilai ekspor komoditas. Sejalan dengan hal tersebut, Annisa Aurora (THP 2015), Ulfatu Mahmuda  (THP 2015), dan Rio Bangga (TEP 2015) mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas, akan terus melakukan penelitian inovasi rancang bangun alat pengendalian kontaminasi aflatoksin guna diperoleh formulasi sistem yang optimal dan sekaligus mewujudkan Indonesia sebagai eksportir berkualitas, aman, dan terpercaya. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian