Dekan: Tegakkan Sholat dan Syariat

Manajemen Rewiew FTP 2011
September 30, 2011
Sosialisasi Teknis EKD 2011
Oktober 5, 2011

Dekan: Tegakkan Sholat dan Syariat

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya UB, Dr. Ir.  Bambang Susilo, M. Sc. Agr, menyerukan kepada segenap civitas akademika dan keluarga besar FTP untuk kembali semangat menegakkan sholat dan syariat dalam rangka membenahan diri agar menjadi manusia yang bertakwa dengan sebenar-benarnya. Hal tersebut disampaikannya  saat memberikan taujih sebagai pencerahan rohani kepada seluruh civitas akademika pada acara Silahturahim dan Pelepasan Calon Haji FTP 2011, Kamis (29/1) lalu.

“Mari kita tegakkan sholat dan syariat-syariat Islam yang lain untuk membenahi kekurangan diri yang ibarat dodot (kain atau baju,red) yang compang-camping. Jangan sampai kita melupakan sholat  lantaran kesibukkan bekerja,” tegasnya.

Dipaparkan dosen TEP ini lebih lanjut, ketaqwaan merupakan syarat mutlak untuk memperoleh  keberhasilan hidup di dunia dan akherat. Karena dengan ketaqwaan kita dapat meraih derajat yang tinggi dihadapan Allah Subhana wata Alla’ (SWT) lantaran sebaik-baik manusia adalah yang paling bertaqwa. Dengan ketaqwaan, manusia akan mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dengan pertolongan Allah SWT serta diberikan rizki yang tak disangka-sangka arah datangnya.

“Yaa ayyuhalladiina aamanu ttaqullooha  haqqo tuqootihii wala tamuutunna illa wa antum muslimun yang artinya Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNYA dan jangalah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim,” tegasnya dengan mengutip keterangan ayat Al Qur’an surat Ali Imron ayat 102.

Dikatakannya kemudian, definisi orang yang bertakwa seperti yang tertera pada QS. Al Hajj ayat 35 yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah SWT maka hati mereka bergetar, orang-orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka dan orang yang melaksanakan sholat dan orang yang menginfakkan sebagaian rezeki yang di karuniakan kepada mereka.

” Sehingga orang yang bertakwa itu, orang yang mencintai Allah SWT, menegakkan sholat, selalu bersabar dan bersyukur dan gemar bersedekah,” lugasnya.

Ciri orang bertaqwa antara lain, imbuhnya, yakni  mencintai Allah SWT sebagai Tuhannya dengan senantiasa melakukan bentuk-bentuk ketaatan antara lain rajin ibadah baik yang wajib maupun sunnah dan selalu berjuang untuk menjauhi semua hal yang dilarang Allah SWT. Kemudian Mencintai Al Qur’an dengan selalu membaca dan mengaplikasikan isinya dalam kehidupan sehari-hari serta berhukum pada Al Quran karena yakin akan kebenaranya sebagai  firman Allah SWT.

“Yang kedua cirinya orang bertakwa adalah mencintai Rosululloh Muhammad saw. dengan menjadikannya suri teladan dan berupaya melakukan sunah-sunahnya dalam kehidupan kita sehari-hari,” tuturnya.

Kemudian, Bambang demikian dia biasa disapa, mengajak audiens untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri dengan mengurai kekurangan diri dan mulai segera membenahi diri dengan kembali kepada syariat dan senantiasa melakukan ibadah-ibadah sunah. Seperti sholat malam dan rajin membaca Al Qur’an dan memahami serta menerapkannya juga senang bersedekah.

“Setelah digembleng beribadah , bershodaqoh, berzakat sebaik2nya pada bulan Ramadhan, kemudian diri kita kembali fitri dan diharapkan meningkat ketakwaannya dan puncaknya ibadah adalah ibadah haji bagi mampu,” ujar ayah dengan 3 anak ini.

Sebelumnya, dijelaskannya, terkait pribadi muslim dan ketakwaan dengan menganalogikan lagu dolanan dari Jawa Tengah berjudul Ilir-ilir yang menurut Bambang mengandung sarat hikmah.

“Seperti maksud dari bait pertama lir ilir itu maksudnya bangunlah kamu setelah berpuasa sebulan penuh dan tandure wis sumilir artinya amal ibadah dan kebajikan yang sudah kamu lakukan telah berbuah yakni ketaqwaan,”  papar dosen yang dikenal ramah dan dekat dengan mahasiswa ini.

Kemudian cah ango , lanjut mantan Ketua Program Studi Magister TIP ini, artinya adalah setiap manusia itu adalah bocah angon atau penggembala yang menggembalakan atau mengatur dan mejaga diri sendiri. Setiap manusia adalah pemimpin terlepas apapun status dan pekerjaannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah menjadi amanahnya.

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Yang Dekan akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya. Yang Kasubbag juga pemimpin, yang staf juga pemimpin, yang bagian bersih-bersih juga akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya. Untuk itu bersungguh-sungguhlah dalam mengerjakan semua tugas dan pekerjaan,”  himbaunya memberikan motivasi.

Selanjutnya bait penekno blimbing kuwi yang berarti ambilkan dengan memanjat buah blimbing yang punya 5 sisi dianalogikan dengan rukun Islam. Lunyu-lunyu penekno kanggi mbasuh dodot siro yang artinya meskipun selicin dan sesusah apapun hendaknya ikut memanjat (meraih) blimbing memiliki lima sisi yang menggambarkan 5 rukun Islam untuk membasuh dan sarana penyucian diri dari segala dosa dan menjadi manusia yang bertakwa.

“Marilah  kita berusaha menjadi manusia yang bertakwa. Mumpung padhang rembulané mumpung jembar kalangané yang artinya mumpung masih ada waktu. Mumpung kita masih diberi kesempatan sebelum menutup mata,” sarannya. (elr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian