Ditangan Mahasiswa FTP, Andaliman Ampuh Perangi Hipertensi

Mahasiswa FTP Menjadi 10 Finalis Terbaik Banyuwangi Agribusiness Start Up Competition 2019
Juli 3, 2019
Lima Inovator Muda FTP Manfaatkan Limbah Ternak Kelinci Jadi Kompos dengan Actor
Juli 5, 2019

Ditangan Mahasiswa FTP, Andaliman Ampuh Perangi Hipertensi

Hipertensi adalah penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit stroke dan tuberkulosis, yakni sebesar 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia (Departemen Kesehatan, 2010). Prevalensi hipertensi Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi, yakni sebesar 25,8% pada hasil pengukuran pada umur ≥18 tahun (Riskesdas, 2013). Nilai tersebut belum termasuk 63,2% kasus hipertensi di Indonesia yang belum terdiagnosis (Riskesdas, 2013). Maka, hipertensi termasuk permasalahan kesehatan yang menjadi fokus perhatian di Indonesia.

Salah satu alternatif pengobatan hipertensi yang telah terbukti efektif di industri farmasi adalah penggunaan ACE-I (Angiotensin-I Converting Enzyme Inhibitors). Mekanisme kerja ACE-I yaitu menghambat kerja ACE (Angiotensin-I Converting Enzyme) yang merupakan katalisator perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II pemicu penyempitan pembuluh arteri. Saat ini, ACE-I sintetis telah diproduksi secara komersial sebagai obat antihipertensi, misalnya captopril, enalapril, alcacepril dan lisinopril. Namun, telah banyak penelitian yang menunjukkan adanya efek samping ACE-I sintetis bagi penggunaanya, baik efek fisiologis maupun non fisiologi seperti batuk, angioedema, dan gangguan pada kehamilan (Sica, 2005). ACE-I yang diperoleh secara alami lebih aman dibandingkan ACE-I sintetis. Tetapi, penelitian mengenai aktivitas ACE-I dari bahan alami sebagai antihipertensi masih sangat terbatas.

Sementara itu, Indonesia memiliki tanaman rempah khas dari Sumatera Utara yakni andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) atau Merica Batak. Andaliman umumnya digunakan sebagai bumbu masak pada makanan daerah dan masakan daging karena dipercaya dapat mengurangi kolesterol dan mencegah hipertensi. Namun, belum ada bukti empiris maupun penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian terkait andaliman lebih banyak terfokus pada aktivitas antibakterinya. Apabila ditelisik lebih lanjut, andaliman mengandung flavonoid khususnya senyawa quercetin yang memiliki aktivitas ACE-I >30% sehingga berpotensi sebagai antihipertensi alami (Guerrero, 2012).

Dilatarbelakangi hal tersebut, tiga mahasiswi Brawijaya dari Fakultas Teknologi Pertanian yang tergabung dalam tim PKM-PE beranggotakan Septina Silalahi (FTP 16), Tory Rachel Megaputri (FTP 16), dan Daisy (FTP 17) melakukan penelitian mengenai potensi flavonoid bumbu andaliman sebagai antihipertensi. Penelitian menggunakan metode kolorimetri untuk pengukuran total flavonoid dari hasil ekstrak dan menggunakan metode in vivo untuk pengujian efektivitas penghambatan hipertensi. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut heksana, etil asetat, etanol, dan air minum. Hasil pengukuran total flavonoid dengan spektrofotometer menunjukkan kadar flavonoid tertinggi terdapat pada hasil ekstrak etanol dan etil asetat. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi baru mengenai potensi andaliman sebagai obat antihipertensi alami yang dapat dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan kesehatan serta mendorong penelitian lanjut terhadap pemanfaatan andaliman sebagai rempah lokal Indonesia dalam bidang kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian