E-Paddy, Electric Padi untuk Kawasan Tertinggal

PEREMAS, Pereduksi Emisi Gas Cerobong Asap dengan Spirulina
Mei 17, 2016
OSMART Sang Pengasin Telur
Mei 17, 2016

E-Paddy, Electric Padi untuk Kawasan Tertinggal

IMG-20160517-WA0004Berdasarkan data, saat ini tercatat masih 19% kawasan Indonesia yang belum teraliri listrik. Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, sayangnya msih terkendala biaya tinggi serta proses yang rumit. Hal ini yang kemudian melatari kelima mahasiswa Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya merancang inovasi E-Paddy sebagai solusi listrik daerah tertinggal. Kelima mahasiswa tersebut adalah Dheniz Fajar Akbar (TBP 2014), Lisa Normalasari (TEP 2012), Yogan Surya Tirta (TEP 2012), Tiara Wiranti (TEP 2012) dan Hamdan Mursyid (TBP 2014) dibawah bimbingan Dewi Maya Maharani, STP. MSc.

Meski mempunyai manfaat yang luar biasa, prinsip dasar yang digunakan dalam penelitian sebenarnya sederhana yaitu dengan menggabungkan prinsip fisika dan biologi. Prinsip biologi yang digunakan disini adalah fotosintesis. Umumnya tanaman akan menyerap sinar matahari dan menghasilkan glukosa (C6H1206) dan oksigen (O2) melalui proses fotosintesis. O2 yang dihasilkan akan terlempar bebas ke udara. Adapaun glukosa yang dihasilkan akan diserap oleh tanaman sebesar 30%. Sementara 70% sisa glukosa yang tidak terserap kemudian akan dikonsumsi oleh mikroorganisme dalam tanah dan terurai menjadi CO2, H2O dan elektron. Berdasarkan prinsip fisika, tim akan memasang katoda dan anoda disekitar tanaman padi. Anoda yang ditanam dalam tanah akan menangkap elektron. Sementara katoda diletakkan diluar tanah. Kedua anoda dan katoda ini terhubung oleh sebuah kabel yang mengalirkan elektron. Pergerakan elektron inilah yang kemudian akan menghasilkan listrik. Semakin banyak penyiraman dan pemberian kompos akan menghasilkan peningkatan produksi elektron hingga menghasilkan tegangan listrik yang makin tinggi.  Ini juga berarti makin tua umur padi akan makin banyak menghasilkan elektron. Tim menggunakan padi jenis IR-64 yang banyak ditemui  dengan umur 25-30 hari. Berdasarkan penelitian tim, 20 batang padi menghasilkan 331.6mV dengan penyiraman 500ml air dan pemberian kompos 5% dari massa tanah dalam pot.  Kedepan tim berharap penelitian ini dapat diaplikasikan ke berbagai daerah terutama di desa yang belum teraliri listrik tetapi memiliki areal persawahan yang memadai. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian