Spinner Pulling Oil Karya Mahasiswa FTP Tingkatkan Produktifitas Abon Ikan Desa Banturejo Malang

Kiprah Mahasiswa THP pada IAAS 2014 Italia
Mei 20, 2014
“Benang Merah” Perayaan Paskah a la PMK Efrata FTP UB
Mei 21, 2014

Spinner Pulling Oil Karya Mahasiswa FTP Tingkatkan Produktifitas Abon Ikan Desa Banturejo Malang

yusronMahasiswa Jurusan Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (TEP FTP UB) sukses memperkenalkan teknologi Spinner Pulling Oil kepada anggota dan pengurus Koperasi Wanita Srikandi serta Warga Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Spinner Pulling Oil merupakan alat peniris minyak guna membangun kembali potensi warga Desa Banturejo untuk memperpanjang umur simpan abon ikan serta memaksimalkan pengolahan aneka keripik seperti keripik tempe, keripik pisang maupun keripik buah lainnya.

Sosialisasi dan pelatihan alat yang dilaksanan Sabtu (03/05/2014) di  Koperasi Wanita Srikandi, desa Banturejo kecamatan Ngantang kabupaten Malang. Sekitar 20 orang perwakilan anggota koperasi yang hadir tampak antusias menyimak materi tentang  komoditas unggulan di Desa Banturejo, bagaimana menggali potensi yang ada hingga pelatihan dalam penggunaan, perawatan, dan keamanan alat  Spinner Pulling Oil tersebut. Warga Desa Banturejo tampak berharap banyak karena alat ini terbukti mampu memperbaiki kualitas produk sehingga dapat memperpanjang umur simpan.

Seperti diketahui, Desa Banturejo yang bertepatan dengan lokasi wisata Bendungan Selorejo mempunyai komoditas unggulan di sektor perikanan. Banyak masyarakat yang membudidayakan Ikan Lele untuk dijual di sekitar Bendungan Selorejo.

alatyusron“Dengan bantuan alat ini diharapkan membuat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa Banturejo untuk bisa lebih mengoptimalkan Sumberdaya Manusia dan Alamnya”, demikian kepala desa Banturejo, Kusnanto mengungkapkan apresiasi khususnya kepada mahasiswa karena membuat bangkit KOPWAN Srikandi.

Sementara ketua Koperasi Wanita Srikandi, Wiwin Fauziah menuturkan alat Spinner Pulling Oil ini sangat berguna untuk meningkatkan kualitas abon sehingga mampu menambah nilai jual. Dengan demikian potensi yang ada di Desa Banturejo, Ngantang dapat dikembangkan secara lebih optimal. “Untuk mengurangi minyak pada produk abon, selama ini kami hanya menggunakan cara konvensional yaitu hanya ditiriskan menggunakan koran atau kain saja. Akibatnya produk abon tidak tahan lama dan mudah tengik,” ujarnya.

Produksi Abon Ikan di KOPWAN Srikandi berhenti berproduksi lebih dari 1,5 tahun yang lalu karena terkendala tidak tersedianya alat untuk produksi abon ikan mereka. Proses penirisan minyak Abon Ikan sendiri masih menggunakan cara konvensional dan sangat sederhana. Tetapi kini berkat Spinner Pulling Oil KOPWAN Srikandi telah merencanakan peningkatan produk oleh-oleh khas Selorejo sebagai produk yang berpeluang tinggi dipasaran. Sementara ini kapasitas produksi per hari sebesar 10 kg abon ikan diharapkan setidaknya mampu memenuhi 25 persen permintaan konsumen. Kedepannya tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penerapan Teknologi FTP UB yang terdiri dari Muhammad Agung Nugraha, Helmy Fadhlurahman, Alvian Budi Irianto, Famelian Regeista dan Halimatus Sa’diyah dibawah bimbingan Yusron Sugiarto STP., MP., M.Sc., dari jurusan Keteknikan Pertanian FTP, tidak saja membuat alat peniris minyak Spinner Pulling Oil dan membantu proses pengolahan abon ikan, tetapi juga turut serta dalam proses pemasaran ke berbagai pusat oleh-oleh di Malang dan dalam jangka panjang akan ikut berperan dalam strategi pemasaran keluar Malang.

Muhammad Agung Nugraha, salah satu anggota tim menuturkan “Spinner Pulling Oil” merupakan solusi yang sederhana namun memiliki hasil yang maksimal untuk mengatasi permasalahan yang ada di desa tersebut. “Proses pembuatan alat ini membutuhkan waktu kurang dari 2 bulan dan kami telah melakukan survey terlebih dahulu agar menjadi teknologi yang tepat guna . Meski terlihat cukup sederhana dan mudah penggunaannya namun dengan alat ini, produk olahan ikan bisa bertahan selama 10 bulan dibandingkan dengan cara konvensional yang hanya bertahan dalam 2-4 minggu saja. Semoga alat kreasi kami dapat membuat perekonomian desa Banturejo semakin meningkat”, ujarnya mengakhiri wawancara. (yso/dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian