FTP INGIN DIRIKAN PUSAT KAJIAN PANGAN HALTOB

SEMARAK PERAYAAN DIES NATALIS 14 FTP
April 1, 2012
Informasi tentang Food and Agriculture Organizaation ( FAO ) of The United Nations
April 12, 2012

FTP INGIN DIRIKAN PUSAT KAJIAN PANGAN HALTOB

Semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat akan pola konsumsi dan tingginya demand produk pangan halal thoyiban (Haltob), menggugah Fakultas Teknologi Pertanian untuk berencana mendirikan Lembaga Pusat Kajian Pangan Halal Thoyiban. Demikian diungkapkan Dekan FTP, Dr. Ir. Bambang Susilo, M. Agr. Sc, saat menerima kunjungan dari pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan , Rabu (11/4).

“Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia yang Muslim dan besarnya konsumen Muslim di pasar dunia sehingga cukup potensial untuk mengembangkan produk pangan Haltob. Jangan sampai kalah dengan Negara lain seperti Thailand yang telah memulai dan mengklaim sebagai Dapur dunia. Oleh karena itu, FTP sebagai institusi pendidikan berkeinginan untuk mendirikan Lembaga Pusat Kajian Pangan Halal & Thoyyiban dengan menggandeng pihak luar yang berkompeten,” tuturnya.

Dikatakan Bambang lebih lanjut, hal tersebut sejalan dengan visi dan misi FTP sebagai barometer dan pusat pendidikan, penelitian juga informasi ilmiah bidang ilmu Teknologi Pertanian sehingga dapat berperan nyata dalam kehidupan bermasyarakat dengan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi Pertanian serta mengupayakan aplikasinya untuk meningkatkan taraf kehidupan agroindustri dan mempertinggi martabat bangsa.

Sedangkan, Pembina Yayasan dan Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah Pasuruan, KH. Abulloh Shidiq menyampaikan kegundahan produsen Muslim di Jawa Timur khususnya mengenai kurangnya ketersediaan bahan dan produk pangan dengan label haltob yang akan mempengaruhi output produk yang dihasilkan.

“Karenanya kami mohon kepada FTP untuk sharing dan menyebarluaskan iptek yang berkaitan dengan produk pangan seperti enzim –enzim yang bersertifikasi halal dan thoyyib,” ujarnya pendiri Boarding School Bayt Al Hikmah bertekad mencetak generasi Muslim berkapasitas intelektual tinggi namun tetap memegang nilai-nilai dan wawasan Islami ini.

Disampaikannya, kunjungan rombongan Al Hikmah yang terdiri dari Ponpes yang juga mendirikan SMK jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pangan ini dimaksudkan membuka peluang kerjasama dan tindak lanjut yang produktif antar FTP dengan Al Hikmah. Termasuk pembinaan pegelolaan pendidikan dan kurikullum, joint resource sharring dan fasilitasi pelatihan.

Hadir pada acara yang akan segera disusun MoU kerjasamanya tersebut, Pembantu Dekan I, Dr. Ir. Bambang Dwi Argo, DEA dan Pembantu Dekan II, Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M. App. Sc serta Sekretaris Jurusan THP, Dr. Teti Estiasih, STP. MP. Tampak salah satu dosen FP UB, Dr. Ir. Anton Muhibuddin selaku mediator. Turut hadir, Ketua Tim PSIK, Masud Effendi, STP. MP dan Sekretaris PSIK, Mochammad Nur Cholis, STP. MP.

URGENSI KETERSEDIAAN PANGAN HALAL THOYIB

Sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar, sangat wajar jika pangan halal menjadi isu yang cukup menarik untuk dikaji dan diperbincangkan. Berbagai usaha penanganan telah dilakukan oleh beberapa instansi terkait. Namun perlu diakui bahwa proses penanganan halal ini masih menemukan beberapa kendala dan tantangan kedepan. Untuk itu perlu adanya penyikapan oleh semua pihak yang berkepentingan baik dari kalangan dunia usaha pangan maupun mereka yang bergerak dalam tataran pengambilan kebijakan.

Kondisi kebijakan penanganan kehalalan pangan nasional diidentifikasi berdasarkan isu strategis dan efektivitas penerapan kebijakan sertifikasi halal terhadap produk pangan. Setelah berjalan lebih dari 10 tahun, efektivitas kebijakan masih tergolong rendah yaitu 0.07 % perusahaan tersetifikasi halal dari jumlah total perusahaan yang ada. (Rikza Saifulloh, 2008).

Label pada produk pangan merupakan hal yang sangat  penting untuk diperhatikan. Sesuai dengan peraturan pemerintah No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan pasal 2 ayat 1menyebutkan, bahwa setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam dan atau di kemasan pangan” (Hukum Online.com, 2009). Sedangkan pencantuman tulisan “halal” ini juga diatur oleh keputusan bersama Menteri  Kesehatan dan Menteri Agama No. 427/MENKES/SKB/VIII/1985.

Sedangkan Halal, merupakan masalah yang cukup fundamental bagi konsumen muslim.  Kehalalan suatu produk menjadi pertimbangan utama untuk mengkonsumsinya. Umat Islam tentunya akan merasa tenteram jika produk produsen tak hanya mengklaim bahwa produknya halal. Makanan yang halal yang masuk menjadi bagian dari tubuh kita akan menjadi sumber energi baru yang sangat bernilai untuk kehidupan.

Namun realitanya, saat ini begitu banyak produk makanan yang beredar di pasaran memungkinkan keabsahan halal dan haramnya semakin lama semakin tidak jelas. Sehingga, perlu adanya ketelitian konsumen dalam menyeleksi mana saja produk makanan halal dan haram.

Menilik  beberapa kasus produk pangan  yang marak terjadi, seperti kasus sistein, kasus gelatin, kasus keju yang notabene enzim yang digunakan untuk koagulasi susu terbuat dari enzim rennet yang ada pada sapi atau babi, kasus stunning (pemingsanan), kasus sapi glonggong, kasus ayam tiren (mati kemarin), kasus rambak sapid an cecek sayur, kasus impor kulit keplaa manusia untuk bahan makanan tertentu, dll. Kiranya. ketelitian dalam memilih produk pangan yang halalan toyyiba (halal dan baik untuk dikonsumsi) merupakan pilihan cerdas yang seyogyanya diterapkan masyarakat muslim saat ini.

Yang dimaksud dengan makanan halal disini dalam subtansinya, cara mendapatkannya ,cara mengolahnya ,kualitasnya dan kuantitasnya. Atau, mencakup dari proses pemotongan, penyimpanan, penyajian, penyiapan, kesehatan dan kebersihan (Syafie & Othman, 2006).

Selain halal, Muslim juga diwajibkan mengkonsumsi makanan yang baik (Thoyib), seperti belum daluarsa, tidak mengandung zat addiktif yang beracun, tidak membahayakan kesehatan, ketergantungan dan tidak terdapat kandungan bahan yang tidak halal  atau subhat (samar-samar,red). Kesimpulannya yang halal tidak selalu thoyyib dan thoyyib sering kali bersifat subyektif , sementara halal bersifat mutlak

Dalam hal ini dapat disimpulkan, urgensi ketersediaan produk pangan haltob merupakan hal yang tak dapat ditawar. Seiring dengan tingkat pemahaman masyarakat yang berbanding lurus dengan demand produk haltob, menyebabkan produk yang bersertifikat halal memiliki peluang pasar yang potensial.

Perkiraan pemasaran produk halal di pasar global saat ini telah mencapai nilai lebih dari 600 miliar dolar (Anton Apriyantono, 2007).  Dikutip dari pernyataan Presiden SBY dalam acara Opening Ceremony of the 3rd World Islamic Economic Forum Islam and the Challenge of Modernization Kuala Lumpur, Malaysia, 28 Mei 2007, permintaan terhadap produk halal di pasar global ini diperkirakan akan meningkat terus, dengan pertumbuhan per tahun sebesar 20 – 30 persen.

Hal ini mengingat terutama cukup besarnya populasi pasar umat Islam di dunia yang mencapai sekitar 1,6 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi produk halal, Negara Islam, bahkan sampai harus mengimpor produk dari luar, dan bahkan dari negeri non Muslim, seperti misalnya yang telah dilakukan oleh Negara Timur Tengah sejak lama dengan mengimpor daging halal dari Negara non Muslim, terutama dari Australia dan Brazil (Irfan, 2007). Ilustrasi tersebut  dapat ditangkap institusi pendidikan mengembangkan  dan menyebarluaskan ilmu pengetahuannya dan teknologi kepada masyarakat serta dijadikan peluang produsen untuk menyuplai produk pangan haltob. [elr]

Pembina Yayasan Bayt Al Hikmah bersama Dekan FTP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian