FURY WARS Karya Mahasiswa FTP Sulap Limbah Tahu Jadi Dompet Cantik

HYCROFER Bantu Petani Sawi
Juli 18, 2018
SUNWARD Kembangkan Produk Susu Dalisodo Wagir
Juli 19, 2018

FURY WARS Karya Mahasiswa FTP Sulap Limbah Tahu Jadi Dompet Cantik

Tahu merupakan makanan favorit masyarakat Indonesia. Data SUSENAS menunjukkan rata-rata konsumsi tahu Indonesia tahun 2002-2015 adalah sebesar 7,26kg/kapita /tahun. Besarnya konsumsi tahu mendorong menjamurnya industri produsen tahu yang sayangnya tidak diimbangi dengan lengkapnya sistem pengolahan limbah tahu yang sesuai. Terdapat dua jenis limbah produksi tahu, yaitu limbah limbah tahu cair dan limbah tahu padat yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya produsen tahu masih membuang limbah cairnya ke sungai karena belum memiliki teknologi pengolahan limbah yang dibutuhkan. Padahal limbah cair tahu ini sangat berbahaya jika dibuang langsung ke badan air karena tingginya kandungan BOD dan COD serta asamnya pH sehingga menimbulkan bau, mengurangi kadar oksigen dalam air dan meningkatkan kekeruhan air.

Inilah yang melatari kelima mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya merancang teknologi yang tepat diaplikasikan pada pengolahan limbahnya. Mereka adalah Listy Laura (TL 2016),Robert Antonius (TL 2016), Dewi Martha Ayu (TL 2017), Xavier Adli (TL 2017), Raihan (TL2017) yang merancang FURY WARS (Tofu Industry Wastewater Recycling Systems) dibawah bimbingan Angga Dhetta Shirajuddin, SSi.MSi. FURY WARS merupakan teknologi tepat guna yang mengelola limbah cair tahu yang masih mengandung kandungan asam cuka dan protein yang tinggi menjadi limbah cair yang aman untuk dibuang ke parit sehingga tidak menghasilkan bau yang tidak sedap di sekitar lokasi industri tahu.

Listy Laura ketua tim menjelaskan,”Alat ini sebenarnya sederhana, hanya berupa balok kaca bertingkat karena  pengolahan kami menerapkan prinsip gravitasi. Tetapi kami juga menambahkan bakteri pada balok pertama dan kedua untuk menyehatkan limbah cair tersebut. Selain itu ada pula oksigen yang kami tambahkan di balok kedua untuk lebih menyehatkan dan menyeimbangkan kadar pH limbah. Pada balok terakhir kita menggunakan filter sehingga limbah cair menjadi lebih ramah lingkungan sebelum dibuang ke sungai,” paparnya.

Selain mempersiapkan instalasi pengolahan limbah cair, kelompok ini juga mengolah limbah cair menjadi nata sebagai bahan dasar aneka kerajinan. “Selain mengolahnya sebelum dibuang ke sungai, kami juga menambahkan bakteri pada limbah sebelum masuk ke alat instalasi kami tadi. Penambahan bakteri ini dimaksudkan untuk mengubah limbah menjadi nata sebagai bahan dasar aneka kerajinan. Ini karena saking banyaknya limbah cair yang tersedia sehingga kami memberikan dua solusi pengolahan. Pertama adalah instalasi untuk mengolahnya sebelum dibuang ke sungai dan kedua adalah mengubahnya menjadi nata. Limbah yang telah diberi bakteri dan berubah menjadi nata ini selanjutkan akan kita keringkan. Nata kering yang berbentuk lembaran inilah yang kemudian siap diolah menjadi kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya,” paparnya lagi.

Saat ini FURY WARS telah diaplikasikan ke kelompok industri produsen tahu “KLB” yang beralamat di  Jalan Pelabuhan Ketapang I Nomor 2 Kecaman Sukun, Kota Malang. Setiap harinya “KLB” yang berdiri sejak 1998 ini dapat menghasilkan limbah sebanyak 5237 liter per hari. Implementasi FURY WARS terbukti mampu mengolah limbahnya menjadi lebih ramah lingkungan hingga sekitar 70%.

Ditambahkan Robert Antonius,”Dengan adanya FURY WARS, nantinya pengusaha industri tahu dapat mandiri dalam melakukan pengolahan limbah yang dihasilkan. Instalasi FURRY WARS terbukti mampu mereduksi dampak negatif limbah cair tahu sehingga lebih ramah lingkungan dan bahkan memberdayakan masyarakat dengan menyediakan lapangan pekerjaan dalam bidang produksi kerajinan tangan yang terbuat dari nata de soya. (dse)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian