Keren, Mahasiswa FTP Ciptakan Alat Pendeteksi Kandungan Minyak Babi dalam Makanan

Mari Lawan Stunting dengan Produk Pendamping Balita Berintegrasi Aplikasi Pintar!
September 24, 2020
Mahasiswa FTP Ciptakan Penyaring Gas Pyridine dan Nikotin pada Fermentasi Tembakau
September 26, 2020

Keren, Mahasiswa FTP Ciptakan Alat Pendeteksi Kandungan Minyak Babi dalam Makanan

Sebanyak tiga orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) Braja Manggala, Tubagus Irfan K, dan Harki Himawan membuat sebuah desain alat untuk mendeteksi kandungan minyak babi pada makanan.

Salah satu anggota tim, Braja mengatakan prototype tersebut merupakan rancangan sistem instrumentasi yang terhubung langsung dengan Internet atau Internet of Things (IoT).

“Prototype ini mampu mengakuisisi hasil deteksi secara langsung (real-time). Selain itu ptrototype ini juga memiliki biaya desain yang terjangkau, dibandingkan dengan pengadaan instrumen laboratorium seperti Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan UV/Vis Spetrophotometer yang membutuhkan dana besar,” ujar Braja menjelaskan.

Alat bekerja dengan memanfaatkan prinsip kerja spektrofotometri laboratorium, saat sumber cahaya UV dan visible (tampak) ditembakan dan melewati sampel, cahaya yang yang terpantulkan akan ditangkap oleh sensor dalam bentuk data spektra.

Nantinya data spektra yang terbaca akan diubah dalam bentuk nilai digital oleh alat dan diteruskan ke smartphone atau laptop untuk penampilan hasil deteksi.

Dengan menggabungkan analisis kuantitatif Partial Least Square, data akan memprediksi persentase cemaran babi dalam produk pangan.

Mengingat hasil deteksi nantinya dapat keluar langsung pada aplikasi smartphone, maka kedepannya, prototype ini diharapkan oleh tim mampu membantu melakukan pendugaan awal cemaran babipada proses sertifikat halal MUI.

“Saat ini prototype masih dalam tahap pengembangan, yaitu untuk mengetahui cemaran minyak babi dengan minyak goreng sawit, kedepan kami akan meningkatkan kompleksitas pengujiannya pada bahan pangan,” kata Braja.

Iqbal menyatakan bahwa instrumen ini berpotensi untuk mencegah terjadinya kecurangan pada pencampuran bahan pangan (food fraud). “Nantinya, kami juga akan memperbaiki sistem interpretasi data dan user interface agar hasil deteksi lebih mudah dipahami” tambahnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian