Kuliah Tamu Teknologi Bio Sensor Kyoto University

Refreshing Auditor Internal dan Sosialisasi AIM Siklus 13
Oktober 16, 2014
Pertemuan Kerukunan Orang Tua Mahasiswa 2014
Oktober 18, 2014

Kuliah Tamu Teknologi Bio Sensor Kyoto University

IMG_5774Jurusan Keteknikan Pertanian (TEP) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) menyelenggarakan kuliah tamu Teknologi Bio Sensor dari Kyoto University – Jepang di Aula Gedung FTP lantai 2, Jumat (17/10/2014) mulai pukul 13.00 WIB dengan menghadirkan Profesor Naoshi Kondo dan Yuri Ohara sebagai narasumber.

Dalam sambutannya ketika membuka acara, Pembantu Dekan I Bidang Akademik FTP, Dr.Ir.Bambang Dwi Argo mengatakan pentingnya mengikuti kegiatan ini. “Saat ini perkembangan  teknologi biosensor di dunia demikian pesatnya. Jadi penting bagi mahasiswa untuk membuka wawasan dengan mengikuti kegiatan ini sampai selesai. Terlebih di sesi kedua nanti juga ada pemaparan tentang Kyoto University dan beasiswa yang tersedia. Kuliah tamu ini diselenggarakan juga sebagai penunjang visi FTP untuk menjadi pusat pendidikan, penelitian dan informasi ilmiah dalam bidang ilmu Teknologi Pertanian. Harapannya kegiatan ini dapat  menambah wawasan mahasiswa dan perluasan kerjasama dalam pengembangan keilmuan serta riset bersama antara Jurusan TEP dengan Kyoto University di Jepang.” jelasnya dihadapan sekitar 300 mahasiswa yang hadir.

IMG_5840Dalam materinya, Profesor Naoshi Kondo menjelaskan bahwa biosensor merupakan sensor yang terdiri dari kombinasi komponen hayati dan komponen elektronik sebagai transduser. Kombinasi ini akan mengubah sinyal komponen hayati menjadi luaran yang terukur. Biosensor juga dapat diartikan sebagai sebuah alat analisa yang mengkombinasikan komponen biologis dengan detektor fisikokimia. Pada prinsipnya Biosensor Biosensor pada prinsipnya terdiri dari tiga bagian utama, yakni Komponen Biologi, Transduser, dan Alat Pembaca Biosensor. Komponen biologi seperti enzim, asam nukleat, atau antibodi lain yang sensitif terhadap keberadaan analit merupakan material biologis yang berinteraksi dengan komponen yang dipelajari. Elemen sensitif tersebut dapat juga dibuat dengan rekayasa biologis. Transduser atau elemen detektor, seperti detektor elektrokimia, pizoelektrik, atau optik, ini akan mengubah mengubah sinyal yang dihasilkan dari interaksi analit dengan unsur biologis (panas, arus listrik, potensial listrik, dan lain-lain) menjadi sinyal lain sehingga memungkinkan lebih mudah diukur dan dihitung (sinyal elektrik). Elemen ketiga merupakan Alat Pembaca Biosensor yang biasanya berupa signal processor elektronik, yang terutama bertanggung jawab untuk memperkuat sinyal untuk menampilkan hasil. Pada pengolahan buah pasca panen, teknologi sensor diperlukan untuk memastikan kondisi buah yang berkualitas dan layak di konsumsi dengan data yang terukur. Sebab pada beberapa kasus, terdapat buah yang terlihat baik tetapi ternyata menyimpan kandungan microorganisme yang tak terlihat. Hal ini dapat ditanggulangi dengan penggunaan teknologi biosensor. “Biosensor akan mengenali berbagai tanda khusus yang akan terikat seperti enzim, antibodi, mikroba, protein, hormon, asam nukleat, dan sebagainya. Kemudian tanda ini akan diubah sinyalnyamenjadi  informasi analisa yang terukur oleh transduser. Prinsipnya sederhana, patogen dideteksi berdasarkan karakteristiknya, misalnya enzim yang dikeluarkannya. Enzim itu akan berikatan dengan senyawa pengenal yang ada pada biosensor, misalnya protein yang mampu membuat enzim itu bekerja. Hal itulah yang dideteksi oleh biosensor. Dan seberapa banyak hasil pekerjaan dari enzim yang menjadi target biosensor menunjukkan berbagai nilai terukur seperti seberapa banyak patogen yang terdapat dalam buah atau bahan pangan lainnya, berbahayakah kandungan microorganismenya dan lain sebaginya,” jelasnya.

IMG_5924Sesi kedua merupakan pemaparan Universitas Kyoto dan beasiswa yang tersedia. Dipaparkan Yuri Ohara dari International Office of Kyoto University bahwa universitas yang didirikan pada tahun 1897 ini merupakan universitas negeri tertua nomor dua di Jepang. Universitas Kyoto saat ini memiliki 10 fakultas, 17 sekolah pascasarjana, 13 institut riset, serta 29 pusat riset dan pendidikan. Universitas Kyoto juga tercatat telah menghasilkan banyak peraih penghargaan Nobel dalam bidang fisika teori, kimia, dan biologi molekuler. Data juga menunjukkan bahwa 51% mahasiswa Kyoto University bukan warga Jepang sehingga membuktikan bahwa kampus ini cukup representatif di kancah internasional.  Selain itu, hal yang cukup menarik adalah tersedianya berbagai beasiswa, baik dari pemerintah Indonesia melalui Dikti atau pemerintah Jepang melalui MONBUKAGAKUSHO Jadi jangan ragu untuk kuliah Jepang itu karena disana tersedia banyak beasiswa, dari swasta, pemerintah, dan pemerintah daerah. Selain itu setiap universitas terdapat pula skema pengurangan biaya kuliah.  (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian