Kuliah Umum BATAN, Standarisasi Pangan Olahan Siap Saji dengan Teknik Radiasi

Dosen THP Raih Australian Award 2015
Oktober 22, 2015
Tabligh Akbar FORKITA 2015
November 9, 2015

Kuliah Umum BATAN, Standarisasi Pangan Olahan Siap Saji dengan Teknik Radiasi

batanBadan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menggelar kuliah umum “Standarisasi Pangan Olahan Siap Saji dengan Teknik Radiasi Berbasis Pangan SNI Iradiasi” Kamis, (22/10/2015) di Aula Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.

Dipaparkan Prof. Dr. Siti Zubaidah Irawati, pakar radiasi pada produk pangan BATAN, bahwa kedepan teknik radiasi ini sangat diperlukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi masalah pangan. “Harus kita bedakan dahulu antara irradiation food dan food radiation. Irradiation Food adalah produk pangan yang teradiasi sementara food radiation adalah prosesnya, dimana suatu produk pangan akan diradiasi terkontrol untuk memperpanjang masa simpannya sekaligus memperbaiki keamanan pangannya. Teknik radiasi ini berguna dalam proses pengawetan makanan tanpa menghilangkan kandungan  nutrisi serta cita rasa. Pangan siap saji berbahan baku hewani yang dimasak dengan resep tradisional umumnya hanya dapat bertahan pada suhu kamar kurang dari dua hari. Saat ini banyak teknologi yang dapat diterapkan  untuk membantu memperpanjang masa simpannya. Dan teknik radiasi merupakan salah satu alternatif lain yang dapat diterapkan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus tetap menjaga mutu dan keamanan pangan, ” jelasnya dihadapan sekitar 150 peserta kuliah umum yang terdiri dari mahasiswa strata 1 dan pasca sarjana berbagai perguruan tinggi se Jawa Timur serta utusan intansi pemerintah se- Malang Raya.

“Untuk melakukan teknik radiasi ini, kita membutuhkan radionuklida penghasil sinar gamma (cobalt-60, cesium-137) pada dosis maksimal 5 MeV, mesin berkas elektron (maximal 10 MeV) serta sinar X (maximal 5 MeV) serta bahan pangan kering, beku ataupun segar. Pada dosis rendah (kurang atau sama dengan 2 MeV) teknik ini berguna untuk menunda pertunasan dan pematangan. Sementara pada dosis sedang (3-10 MeV) berguna untuk membasmi reangga, dekontaminasi dan mengeliminasi mikroba (patogen) dan membasmi parasit. Sementara teknik radiasi dosis tinggi (diatas 10 MeV) berguna untuk sterilisasi. Saat ini telah terbit SNI dan RSNI Pangan Radiasi yaitu SNI ISO 14470-2011 tentang iradiasi pangan dan persyaratan indikator untuk pangan.” tambahnya lagi.

“Salah satu produk pangan yang telah kami coba adalah rendang. Kami telah mengkaji bersama beberapa instansi terkait seperti BPOM, Kementrian Kesehatan, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Perdagangan, BAPETEN, IAEA, WHO dan FAO. Kami juga telah melakukan sampel pada korban bencana alam di Jawa Tengah dan  gempa bumi Nepal, April 2015 lalu. Terbukti dari 200 sample yang kami ambil datanya di Jawa Tengah, para korban yang kami beri rendang dengan teknik radiasi menyatakan lebih enak daripada rendang tanpa teknik radiasi. Dengan demikian teknik ini dapat diterapkan pada korban bencana alam, industri makanan, terlebih menjelang MEA seperti sekarang ataupun meningkatkan gizi pasien. Berkat masa simpannya yang panjang, teknik radiasi ini juga berguna pada distribusi makanan.  ” pungkasnya. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian