Kunjungan CSIRO Australia ke FTP

KKN Mapres FTP 2015
Januari 19, 2015
Pengumuman SAP 2015
Januari 26, 2015

Kunjungan CSIRO Australia ke FTP

IMG_0817Tim The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia mengunjungi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) , Rabu (21/01/2015). Sejumlah sembilan peneliti Australia yang dipimpin Dr. Archie Slamet dan Dr. Robert Caudwell dari Department of Foreign Affair CSIRO diterima Dekan FTP, Dr.Ir. Bambang Susilo, M.Sc. Agr.  bersama Pembantu Dekan II FTP dan para ketua jurusan FTP di ruang sidang FTP lantai 8 mulai pukul 08.30 WIB.  Agenda utama pertemuan ini adalah perkenalan sekaligus pembuka jalan kerja sama sebelum rapat kerja CSIRO dan seluruh dosen FTP yang memiliki penelitian dengan menggandeng Usaha Kecil Menengah (UMK) di bulan Februari mendatang.

Dalam paparannya, tim CSIRO menjelaskan tentang skema partnership ARISA untuk kawasan Indonesia. Applied Research and Innovation Systems in Agriculture (ARISA) adalah suatu program inovasi berbasis penelitian terapan pada sistem pertanian. Diharapkan melalui program ini akan terdapat penelitian yang menghasilkan inovasi terbaru yang langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kunjungan itu juga membahas tiga penemuan inovatif FTP yang telah terbukti berguna di masyarakat. Diantaranya adalah Pita Tanam Organik karya Dr. Ir. Gunomo Djojowarsito, MP., Inovasi Tepung Mocaf oleh Dr.Ir. Bambang Susilo, M.Sc. Agr serta Penelitian Umbi Porang Prof.Dr.Ir. Simon Bambang Widjanarko, M.Sc.

Pita Tanam Organik merupakan mulsa (penutup tanah) pada sistem tanam padi aerobic berbahan enceng gondok. Penggunaan pita tanam ini terbukti mampu mengurangi tumbuhnya tanaman pengganggu (gulma) yang mengakibatkan produktifitas padi menurun. “Aplikasi pita tanam ini selain mencegah pertumbuhan gulma juga terbukti mengurangi evaporasi lahan pertanian. Selain itu penelitian juga membuktikan padi yang ditanam dengan pita organik ini lebih berkualitas tanpa memerlukan banyak tenaga kerja.  Dikarenakan pita tanam ini juga mampu mencegah penguapan air sehingga kelembapan dan kadar air lahan pertanian tetap terjaga,” jelas Dr. Gunomo.

Sementara itu Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr. menjelaskan bahwa MOCAL atau MOCAF merupakan produk tepung singkong (Manihot Esculenta Crantz) yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel singkong secara fermentasi. Tepung Mocaf diharapkan dapat menggantikan fungsi tepung terigu sebagai bahan baku pembuatan bakery, kue kering, mie dan produk pangan lain karena mempunyai kandungan gizi yang hampir sama. Selain itu, harga tepung Mocaf jauh lebih murah dibandingkan terigu. Di Trenggalek, Jawa Timur terdapat sekitar 100 UKM yang bergabung membentuk Koperasi Gemah Ripah Loh Jinawi. Koperasi ini mengolah singkong dari petani hingga menjadi chip kering (bahasa lokal : ceriping). Namun karena unit produksi berbasis UKM, maka permasalahan utama adalah pada  kontrol kualitas produksi baik dari sisi kualitas fisik hasil produk maupun kontinuitas produksi. Inovasi yang telah dilakukan Dr. Bambang Susilo adalah melakukan pengadaan alat/mesin berupa pengadaan reactor biogas, pengadaan tungku pengering dan pengadaan pengatus chip singkong, pelatihan pengolahan tepung mocaf dan pelatihan manajemen organisasi dan advokasi berupa temu usaha dan pendampingan pengurusan ijin produk ekspor dan impor. Inovasi Dr Bambang Susilo terbukti mampu meningkatkan kuantitas, kualitas sesuai standar SNI dan kontinuitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan pasar.

Prof.Dr.Simon Bambang Widjanarko dalam presentasinya menjelaskan bah umbi porang (Amorphophallus oncophyllus) mengandung kadar glukomanan yang cukup tinggi dan sangat berguna bagi industri pangan, nonpangan maupun kesehatan. Namun terdapat masalah utama dalam pengembangan tepung porang yaitu adanya kalsium oksalat yang menyebabkan rasa gatal, iritasi dan gangguan kesehatan. Optimasi penurunan kalsium oksalat pada proses penepungan untuk memproduksi tepung porang secara mekanis menggunakan stamp mill dan fraksinasiblower. Optimasi dilakukan dengan metode permukaan respons (RSM), Rancangan Komposit Pusat pada tiga variable yaitu berat chip, waktu/lama dan kecepatan penumbukan dengan respons kadar kalsium oksalat. Model respons adalah kuadratik dengan kondisi optimum berat chip porang 1,3 kg, 17,4’8’’, dan kecepatan penumbukan 19,23. Respons kadarkalsium oksalat pada kondisi optimum ini diprediksi sebesar 0,2978% dan aktual 0,3%, menurun 95,12%.  Penelitian yang telah dilakukan Prof. Simon menunjukkan bahwa metode permukaan respon terbukti dapat menurunkan kadar kalsium oksalat pada proses penepungan umbi porang sehingga dapat segera diterapkan di masyarakat.

CSIRO, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, adalah lembaga ilmu pengetahuan nasional Australia dan salah satu lembaga riset terbesar dan paling beragam di dunia. Umumnya penelitian CSIRO berskala besar, jangka panjang, dari berbagai multidisiplin ilmu untuk mengatasi tantangan nasional utama Australia. Tetapi meski merupakan lembaga riset Australia, CSIRO banyak bekerjasama dengan peneliti dari berbagai belahan dunia untuk menjawab berbagai tantangan global seluruh permasalahan umat manusia. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian