Lokakarya Kurikulum Lulusan FTP Menyongsong Pasar Global

Yudisium Agustus 2015
Agustus 31, 2015
FTP Sambut 778 Maba dengan Pangan Lokal
September 5, 2015

Lokakarya Kurikulum Lulusan FTP Menyongsong Pasar Global

LKA_1Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya  menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum bertema “Kompetensi Lulusan FTP Menyongsong Pasar Global” di Aula FTP lantai II, Sabtu (29/08/2015) mulai pukul 08.00 WIB. Bertindak selaku pemateri kegiatan ini adalah para pakar dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI), Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA), Perhimpungan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) dan Asosiasi Profesi Teknologi Agroindustri (APTA).

“Penting sekali menentukan core kompensi dalam penyusunan kurikulum. Misalnya saja kopi susu dan susu kopi. Selintas mungkin terlihat mirip tapi berkat perbedaan core kompetensi akan menghasilkan rasa yang tak sama. Pada pembuatan kopi susu kita akan membutuhkan lebih banyak kopi dan sedikit susu hingga masih terasa kopinya. Sebaliknya pada susu kopi kita membutuhkan banyak susu dari pada kopinya. Dengan demikian kita akan mendapatkan susu yang beraroma kopi. Demikian juga dengan program studi, mungkin terkadang ada beberapa nama yang selintas sama atau mirip. Misalnya program studi Teknik Bioproses, ada yang berada dibawah Kimia tetapi adapula dalam naungan Teknik Pertanian. Tentu saja core kompetensi masing masing bioproses tersebut berbeda sehingga menghasilkan kompetensi lulusan yang juga berbeda. Jadi penentuan core kompetensi akan sangat berpengaruh pada kualitas dan kemampuan lulusan nantinya,” demikian dijelaskan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan DIKTI, Dr. Ir. Illah Sailah, M.Sc. dihadapan sekitar 150 peserta lokakarya dari kalangan civitas Teknologi Pertanian se-Jawa Timur yang hadir.

Pada sesi selanjutnya merupakan paparan materi dari Perhimpungan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI). Dalam paparannya Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc. menjelaskan, “Peranan himpunan profesi sangat diperlukan untuk merumuskan deskripsi dan capaian pembelajaran sesuai bidang masing masing agar terbangun kesetaraan kualifikasi lulusan pada jenjang dan program studi yang sama. Karenanya hendaknya dalam penyusunan kurikulum Ilmu Pangan / Teknologi Pangan / Teknologi Hasil Pertanian mengacu pada standar yang telah ditetapkan melalui surat keputusan PATPI nomor 03/SK-PATPI/XVII/2013 sesuai KKNI. Selain itu hendaknya rumusan capaian pembelajaran juga merujuk pada standar kompetensi yang direkomendasikan Institute of Food Technologists (IFT) yang mengelompokkan ranah kompetensi inti teknologi pangan ke dalam lima ranah yaitu food chemistry and analysis, food safety and microbiology, food processing and engineering, applied food science dan success skills, ” paparnya.

Sementara itu dalam paparannya, Prof. Dr. Ir. Bambang Purwantara, M.Agr. dari Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) menjelaskan tentang transformasi kurikulum teknik pertanian menjadi kurikulum teknik pertanian dan biosistem. “Perkembangan biologi molekuler dan teknologi informasi yang sangat cepat mendorong pengembangan ilmu pada antar muka engineering biology sehingga pertanian dituntut untuk lebih ilmiah dalam menjelaskan setiap proses ‘bios’nya atau science based agriculture. Diketahui juga bahwa biosistem lebih luas dari pertanian. Kemudian juga praktek pertanian yang ternyata menimbulkan kerusakan lingkungan menumbuhkan pemikiran tentang perlunya pemahaman interaksi antara dunia pertanian dengan lingkungan sekitarnya. Adanya tuntutan sustainability lingkungan hidup di wilayah biosphere yaitu wilayah antar muka (interface) dan wilayah tumpang tindih (overlap) antara atmosfer, lithosfer (tanah) dan hydrosfer. Dengan memahami makna Biosistem dan Teknik Biosistem tersebut kita menyadari perlunya perubahan mindset dari yang semula berorientasi pada application based disciplines menjadi ke arah science based engineering dengan scope yang lebih holistik disertai sustainability lingkungan sebagai tolok ukur kunci. Dengan demikian diharapkan kedepan profil lulusan Teknik Pertanian dan Biosistem adalah perancang, manajer, analis sistem, pengembang IPTEKS serta wirausaha dengan memiliki kompetensi utama kemampuan mengidentifikasi merumuskan dan memecahkan masalah teknik pertanian dan biosistem serta memiliki sikap profesional berjiwa wirausaha, tanggap terhadap perkembangan impetk adn mampu berkomunikasi dengan efektif dan mematuhi etika keteknikan,” jelasnya.

Disesi terakhir Dr. Henry Yuliando, STP. MM. M.Agr. dari Asosiasi Profesi Teknologi Agroindustri (APTA) menjelaskan bahwa apa yang akan dikuasai mahasiswa saat lulus hendaknya meliputi kemampuan komunikasi, numerik, penggunaan teknologi informasi dan pemahaman terhadap metodologi atau kemampuan analitis kritis. “Program studi harus dipublish hingga membantu calon mahasiswa dan industri memahami program studi dengan publikasi yang jelas dan mudah dipahami. Desain kurikulum haruslah terdapat perimbangan antara mata kuliah wajib dan khusus. Kurikulum harus mampu menerjemahkan visi, misi, tujuan dan sasaran program studi. Dengan demikian kurikulum mampu menunjukkan kompetensi lulusan yang diharapkan,” jelas Ketua Umum APTA tersebut.  (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian