LUMOS, Karya FTP untuk Memperbaiki Kualitas Kentang

Error, Karya Mahasiswa FTP untuk TKI Korban Aniaya
Juli 3, 2014
Supernova, Gula Merah Super a la FTP
Juli 5, 2014

LUMOS, Karya FTP untuk Memperbaiki Kualitas Kentang

Z3Kentang merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia yang produksinya dapat mencapai 1.042.020 ton/tahun. Akan tetapi kondisi Indonesia yang merupakan Negara tropis menyebabkan produksi kentang tidak se-optimal pada daerah asalnya yang merupakan wilayah subtropis. Hal ini disebabkan karena kentang merupakan tanaman hari panjang yang membutuhkan penyinaran 16 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya maksimal di Indonesia hanya mencapai 12 jam/hari. Selain itu, tanaman kentang hanya dapat tumbuh optimal pada daerah dataran tinggi seperti kaki gunung yang bahkan intensitas cahaya mataharinya rata-rata kurang dari 12 jam/hari karena sering terjadi kabut.

Dalam mengatasi permasalahan ini, lima orang mahasiswa Keteknikan Pertanian (TEP) FTP-UB yang terdiri dari Lia Amaliyah, Akbar Setyo Pambudi, Adriansyah Galih, Agung Heru Yatmo dan Indrawan Cahyo berinisiatif untuk menerapkan sebuah teknologi sistem pencahayaan otomatis khususnya pada pembenihan kentang di dalam greenhouse.Inovasi ini dikembangkan dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) yang dibimbing oleh dosen Keteknikan Pertanian FTP UB, Yusron Sugiarto, STP, M.Sc, MP.

Cara kerja dari sistem pencahayaan ini cukup sederhana, cahaya di dalam greenhouse akan ditangkap oleh sensor fotodioda sebagai umpan bagi mikrokontroler, apabila cahaya yang ditangkap kurang dari intensitas cahaya yang diperlukan tanaman maka lampu akan menyala secara otomatis. Sebaliknya apabila intensitas cahaya yang ditangkap sensor fotodioda berlebihan maka lampu akan mati secara otomatis. Jenis lampu yang digunakan merupakan lampu TL fuora dengan nyala violet yang dapat meradiasikan spektrum cahaya merah dan cahaya biru mengingat kedua spektrum cahaya ini yang paling banyak dibutuhkan pada pertumbuhan tanaman. Selain itu, lama pencahayaan diatur maksimal pada pukul 22.00 disesuaikan dengan photoperiodic tanaman kentang yang memerlukan pencahayaan maksimal 16 jam/hari terhitung dari pukul 06.00. Hasilnya selain rentan terhadap penyakit, pemberian pencahayaan pada tanaman kentang selama 16 jam/hari juga dapat mempercepat waktu pembungaan dan pembentukan umbi.

“Dalam penerapan teknologi ini kami bermitra dengan kelompok tani di Desa Sumberbrantas yang merupakan salah satu desa pertanian penghasil kentang di Jawa timur, yaitu kelompok tani Anjasmoro III yang diketuai oleh Pak Sugeng S.Pt. Beliau melakukan pembenihan kentang di dalam greenhouse dengan menggunakan tanah sebagai media tanamnya. selain itu, untuk keberlanjutan program ini kami juga bekerja sama dengan Pak Rudy Madiyanto yang mengembangkan pembenihan kentang dengan media aeroponik di dalam screen house. Harapannya dengan adanya teknologi LUMOS ini dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas kentang baik secara kualitatif maupun kuantitatif” komentar Lia selaku ketua tim pelaksana program.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian