Mahasiswa FTP Ciptakan Alat Pengolah Limbah Batik Bhre Tumapel

ENCHIS, Nama Sederhana dengan Manfaat Besar
Mei 26, 2015
FLURAL, Sarana Penetralisasi Zat Pencemar Udara dalam Ruang Pabrik
Mei 28, 2015

Mahasiswa FTP Ciptakan Alat Pengolah Limbah Batik Bhre Tumapel

IMG-20150522-WA007Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) ciptakan alat pengolah limbah tekstil industri batik menggunakan “Platinum Inert Electrolysis Technology And Activated Carbon”. Mereka adalah Juli Erwanda (TBP 2013), M Doddy Darmawan (TBP 2013), Agus Setiawan (TEP 2012), Natalia Simanjuntak (TBP 2013), Rahma Wati Pertiwi (TBP 2013), dibawah bimbingan  Shinta Rosalia Dewi, S.Si, M.Sc.

“Ide pertama kita adalah, batik telah menjadi anugerah bagi rakyat Indonesia dan telah diakui dunia. Namun, dari sekian banyaknya pengrajin diseluruh Indonesia, belum ada pengolahan limbah batik yang benar-benar efektif dan efisien. Ini akan mengakibatkan munculnya limbah yang merugikan dan berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar. Survey telah membuktikan ada sekitar 50.000 pengrajin batik tersebar di Indonesia. Saat ini di kota Malang sendiri terdapat  sekitar 230 pengrajin. Mitra kita saat ini adalah Rudi Arianto pemilik industri batik Bhre Tumapel di kelurahan Bandungrejo Sari kecamatan Sukun Kota Malang. Untuk memproduksi tiga lembar kain batik dari awal hingga akhir membutuhkan lebih dari lima puluh liter air bersih setiap minggunya.  Maka jika dikalkulasi selama satu bulan akan membutuhkan lebih dari 200 liter air bersih. Padahal itu hanya dalam satu industri batik di kota Malang saja. Nah bagaimana jika kita kalukulasi seluruh industri batik di kota Malang ? Indonesia ?” papar ketua tim Juli Erwanda

Doddy, anggota tim lainnya menambahkan, ”Alat kami menggunakan platina sebagai elektroda inert untuk mereduksi logam-logam berat yang terkandung dalam limbah batik. Penggunaan platina pada proses elektrolisis dinilai sangat baik karena platina merupakan salah satu logam yang sukar bereaksi dengan air, udara dan bahan-bahan kimia lainnya, sehingga platina tahan terhadap korosi. Setelah proses elektrolisis, air limbah mengalir menuju pipa yang berisi karbon aktif. Karbon aktif berfungsi sebagai adsorbent dalam memurnikan air hasil proses elektrolisis”, jelasnya.

“Kami berharap selain bisa lolos Pimnas, alat pengolah limbah kami ini dapat diterima masyarakat. Cita cita kami adalah membuat alat yang bermanfaat bagi semua aspek, baik manusia, lingkungan, maupun dunia. Dengan penerapan alat ini maka ketiga aspek tersebut dapat terealisasi,” pungkasnya. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian