Bio-PTK Berbahan Limbah Kulit Kopi Karya Mahasiswa FTP

Silaturahmi dan Halal Bihalal Keluarga Besar FTP 2018
Juni 25, 2018
Mahasiswa FTP Sulap Limbah Organik Jadi Listrik
Juni 28, 2018

Bio-PTK Berbahan Limbah Kulit Kopi Karya Mahasiswa FTP

Desa Ringin Kembar  merupakan salah satu desa di Kabupaten Malang yang memiliki beberapa jenis hasil perkebunan, salah satunya adalah kopi. Menurut hasil wawancara dengan perangkat Desa Ringin Kembar (2017), diketahui bahwa luas lahan perkebunan kopi mencapai 80 ha dan rata-rata menghasilkan 640 kuintal kopi setiap tahunnya dengan perkiraan limbah kulit kopi sebanyak 320 kg. Selama ini limbah yang dihasilkan dari pengolahan tersebut belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, limbah kulit kopi langsung dibuang bahkan ada pula yang sampai dibakar sehingga dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan seperti pencemaran pada air, tanah dan udara.

Dengan fenomena seperti itu, lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya berinisiatif untuk memanfaatkan limbah kulit kopi menjadi produk yang lebih bernilai. Lima mahasiswa FTP UB tersebut adalah Muhammad Jimly Imamuddin (TIP 2015), Rofiah (TIP 2015), Ainur Roficoh (TIP 2015), Zumarul Inayah (TEP 2015)  dan Virgiawan Prakoso (TEP 2016). Mereka tergabung dalam tim PKM-Pengabdian Masyarakat yang mendapatkan dana hibah dari KEMENRISTEK DIKTI. Program yang dilakukan di Desa Ringin Kembar ini bernama OW-COFFEE (Optimization Waste Of Coffee) yaitu program pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi Bio-PTK (Biogas, Pakan Ternak dan Kompos). Program ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih produktif dan peduli lingkungan.

“Pembuatan Bio-PTK ini sangat sederhana dan mudah dilakukan. Hal pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan biogas adalah membangun instalasi, kemudian campuran kulit kopi dan kotoran hewan dimasukkan kedalam instalasi. Untuk pembentukan biogas yang pertama kali mebutuhkan rentang waktu 7-30 hari. Untuk adonan kotoran selanjutnya pembentukan gas dapat berlangsung selama 4-7 hari. Langkah awal pembuatan pakan ternak adalah mengamoniasi kulit kopi menggunakan urea selama 1 bulan. Setelah diamoniasi, kulit kopi dicampur dengan dedak kemudian siap diaplikasikan. Untuk pembuatan kompos sendiri tidak terlalu sulit cukup mencampur kulit kopi dengan kotoran ternak, EM 4, dan molase. Setelah itu adonan tinggal di tutup menggunakan terpal selama 1-2 bulan.” ujar Ainur.

Menurut Jimly “program OW-COFFEE ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah kulit kopi yang selama ini langsung dibakar dan tidak dimanfaatkan. Dengan dimanfaatkannya limbah kulit kopi ini dimaksudkan agar  dampak negatif bagi lingkungan seperti pencemaran pada air, tanah dan udara dapat dikurangi,” ujarnya. Motor Penggerak dari program OW-COFFEE ini adalah Kelompok Tani Desa Ringin Kembar. Jimly dan tim bekerja sama dengan masyarakat khususnya Kelompok Tani untuk mengaplikasikan program tersebut.

Jimly juga berharap OW-COFFEE bisa membantu masyarakat lebih produktif serta mengurangi pengeluaran terkait gas, kompos dan pakan ternak. “Apalagi kalau dilakukan secara berkala Bio-PTK ini bisa menjadi sebuah produk alternatif pengganti gas LPG yang sekarang sudah mulai langka di Desa Ringin Kembar,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian