Mahasiswa FTP Sulap Limbah Minyak Ikan jadi Suplemen Makanan

ULTRON, Mesin Sari Belimbing Elektrik
Mei 27, 2016
Pengemas Makanan Anti Mikroba oleh Mahasiswa FTP
Mei 31, 2016

Mahasiswa FTP Sulap Limbah Minyak Ikan jadi Suplemen Makanan

34688Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan hasil lautnya. Menurut FAO, pada tahun 2010 pengalengan ikan di Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah China dan Peru sebagai negara penghasil ikan laut tangkapan. Indonesia memiliki sekitar 114 perusahaan pengalengan ikan dengan jumlah produksi 3.500 ton kaleng pertahun (data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011).  Besarnya industri pengalengan ikan ini sehingga menyebabkan limbah sisa proses pengolahan yang dihasilkan juga banyak dan sering menimbulkan masalah lingkungan. Salah satu dampak negatifnya adalah limbah buangan berupa limbah cair maupun limbah padat. Limbah cair dari proses pengalengan ikan berasal dari air proses pencucian dan sisa pemanasan.  Limbah cair tersebut memiliki kandungan minyak ikan yang dapat dimanfaatkan kembali. Dengan latar belakang tersebut, mendorong lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya untuk mengembangkan suatu penelitian pembuatan nanoemulsifikasi minyak hasil samping pengalengan ikan untuk meningkatkan penyerapan DHA sebagai nutrisi otak. Lima mahasiswa tersebut adalah Rinda Kusumawati (THP 2013), Erna Triyas Tanti (THP 2013), Nafisa Rahma Triasanti (TEP 2013), Ismatul Avidah (THP 2012) dan Salma Nasikhah Banin  (THP 2012) dibawah bimbingan Dr. Teti Estiasih, STP. MP. ingin meneliti dan menguji seberapa besar efektivitas nanoemulsifikasi minyak ikan dengan menggunakan pengujian hewan coba, selanjutnya akan diaplikasikan pada manusia. “Pengalengan ikan yang banyak di negara kita secara tidak langsung menimbulkan banyak limbah, salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan yaitu limbah  cair minyak ikan pada pengalengan ikan tersebut” ungkap Erna selaku anggota penelitian.

 34690Luas perairan Indonesia menyebabkan melimpahnya hasil perikanan saat ini. Hal ini menyebabkan adanya suatu pemikiran untuk mengolah ikan menjadi bahan pangan yang awet. Oleh karena itu, saat ini banyak sekali berdiri industry pengolahan ikan, salah satunya adalah industri pengalengan ikan. Selain itu, Minyak ikan adalah salah satu sumber suplai makanan terbaik berupa asam lemak. Minyak ikan kaya akan kandungan ώ-3 seperti EPA (Eicosapentanoic acid) dan DHA (Docosahexanoic acid) yang berperan sangat penting bagi kesehatan.  Berdasarkan studi epidemologi menunjukkan ώ-3 baik untuk perkembangan bayi, kanker, jantung, dan perkembangan otak. DHA diperlukan sebagai unsur pembentuk cawan untuk wadah rhodopsinyaitu senyawa vital penginderaan dan pengiriman balik sinyal yang diterima mata ke otak. Docosahexaenoic acid (DHA) merupakan unsur nutrisi yang juga penting dalam tumbuh kembang dan perkembangan saraf di otak dan membantu pembentukan jaringan lemak otak (mylenisasi) serta menjaga interkoneksi sel-sel syaraf otak terutama untuk mempengaruhi perkembangan otak.

Salah satu anggota yang bernama Rinda mengungkapkan dalam penelitian ini, ada beberapa kendala yang mereka hadapi, seperti kendala waktu karena harus bisa membagi waktu antara kuliah dan penelitian, laboratorium yang terbatas sehingga menyebabkan penelitian sering tertunda. Namun dengan kerja tim yang bagus, dan semangat dari pembimbing yang terus menerus kendala tersebut mampu mereka hadapi dengan baik. Saat ini penelitian mereka sudah mencapai kurang lebih 80% .”Penelitian ini  diharapkan dapat menjadi alternatif dan referensi terbaru dalam mengembangkan metode pemanfaatan minyak ikan dari limbah pengalengan ikan lemuru,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian