Mahasiswa TEP Sulap Limbah Kulit Singkong jadi Bioetanol

Biofrond, Pelepah Sawit sebagai Bahan Baku Bioetanol
Mei 13, 2015
Yohana X-Factor, Meriahkan Pesta Kejutan 17th Dies FTP
Mei 15, 2015

Mahasiswa TEP Sulap Limbah Kulit Singkong jadi Bioetanol

Berawal dari keprihatinan akan rasio pemanfaatan limbah kulit singkong (Manihot utilissima) yang masih terhitung sangat rendah membuat kelima mahasiswa Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (TEP FTP) menginovasi pembuatan bioetanol. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) 2015, Dewi Utami (TL 2012) beserta Hendaria Dwijayanti (TBP 2012), Alik Rangga P (TBP 2013), Afa Najmi L (TBP 2013) dan Annisa Rahmah (TBP 2013) di bawah bimbingan Dewi Maya Maharani, STP, M.Sc.  kelimanya membuat suatu kegiatan yang berjudul “DASIKUKERI Degradasi Lignin Kulit Singkong dan Leri Berbasis Teknologi Microwave Heating Sodium Hydroxide Pre-Treatment Pada Produksi Bioetanol Menyongsong Indonesia Mandiri Energi 2025”.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkanalkan alternatif bahan baku pembuatan bioetanol. Kulit singkong dipilih karena memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi. Karbohidrat merupakan polisakarida yang selanjutnya akan dipecah menjadi molekul yang jauh lebih sederhana sehingga memungkinkan untuk dikonversi menjadi energi.  Selain itu, pemanfaatan limbah kulit singkong masih terbatas untuk pakan ternak, sehingga limbah kulit singkong memiliki potensi pemanfaatan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.

Adapun cara pembuatan Dasikukeri ini relatif sederhana. Kulit singkong yang telah dicuci bersih kemudian dipotong kecil. Setelah itu direndam menggunakan air beras. Perendaman ini  bertujuan untuk meningkatkan kadar karbohidrat yang terdapat pada kulit singkong. Kemudian di keringkan dengan blowerserta dilanjutkan dengan proses pemanasan dengan oven pada suhu 104 derajat celcius. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar air sehingga tidak terjadi penggumpalan pada kulit singkong saat menjalani proses penepungan menggunakan disk mill. Tepung kulit singkong kemudian diayak menggunakan ayakan berukuran delapan puluh mesh. Sedangkan proses pemanasan dengan menggunakan oven bertujuan untuk mendegradasi kandungan lignin yang terdapat dalam kulit singkong sehingga kandungan karbohidrat, selulosa maupun hemiselulosa dapat dimaksimalkan pengolahannya. Hasil ayakan tepung kulit singkomg ini selanjutnya dianalisis kandungan selulosa, hemiselulosa dan lignin menggunakan metode Chesson dan dilakukan analisis mikrostruktur menggunakan analisis SEM (Scanning Electron Microscopy). Selanjutnya tepung singkong diberikan perlakuan berupa pencampuran dengan NaOH serta pemanasan kembali dengan oven microwave dengan variasi perlakuan berupa konsentrasi NaOH serta waktu pemanasan dalam oven. selanjutnya sampel diuji dengan menggunakan metode SEM untuk melihat degradasi lignin yang terjadi.

Keunggulan pengolahan bioetanol tim ini adalah pada metode yang digunakan pada proses pre-treatment nya. Sebab hanya dengan cuci, kering dan diopen serta fermentasi maka kita sudah akan mendapatkan bioetabnol. Alat yang digunakan juga relatif mudah didapat di pasaran. jadi mampu mengangkat limbah kulit singkong.  proses pra fermentasi cumka 5-6 hari sehingga tidak memakan waktu yang relatif lama. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian