Mahasiswa UB Ciptakan Alat Pemantau Kualitas Air pada Badan Air Berbasis Mikrokontroler dan Aplikasi Smartphone

Potensi Pemanfaatan Piperin pada Cabai Puyang sebagai Balsam untuk Nyeri Otot
Agustus 29, 2021
AUTOWASTER, Teknologi Automatic Waste Segregator dengan Belt Conveyor Mechanism berbasis Arduino Uno guna Mengatasi Permasalahan Sampah Lokal
Agustus 31, 2021

Mahasiswa UB Ciptakan Alat Pemantau Kualitas Air pada Badan Air Berbasis Mikrokontroler dan Aplikasi Smartphone

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses menciptakan sebuah alat pemantau kualitas air pada badan air berbasis mikrokontroler dan aplikasi smartphone. Kelima mahasiswa tersebut ialah Muhamad Gibraltar Alam, Atiiqah Dewi Syafitri, Muhammad Dandy Cahya Wibawa, Refina Kartika Putri, dan Yanuar Mufid Hardian dari Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian UB di bawah bimbingan Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., PhD, PGCert.

Pembuatan alat ini berangkat dari permasalahan yang ada di masyarakat dimana sumber-sumber air yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari terutama untuk keperluan konsumsi kualitasnya semakin menurun karena tercemar oleh bahan-bahan berbahaya. Air yang digunakan untuk keperluan konsumsi memiliki standar yang berbeda dengan air yang digunakan untuk keperluan budidaya perikanan dan irigasi pertanian.

Saat ini, pemantauan kualitas air pada badan air dilakukan menggunakan alat yang berbeda-beda untuk setiap parameter yang diukur. Menurut Gibraltar dan teman-temannya, hal tersebut terkesan menyulitkan pengguna dari segi efisiensi waktu dan tenaga. Kemudian, pengukuran konsentrasi logam berat pada badan air belum banyak dilakukan sebab instrumen yang diperlukan keberadaannya terbatas, membutuhkan biaya yang besar, dan waktu yang lama untuk pemrosesan data.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, maka Gibraltar dan teman-temannya menciptakan WATCHER (Water Quality Detector with Multiple Parameters). Sebuah inovasi alat pemantau kualitas air pada badan air yang mampu mengukur empat parameter kualitas air secara langsung, pemantauan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, dan memiliki desain yang minimalis serta portabel sehingga memudahkan pengguna untuk membawanya ke lokasi pemantauan yang berbeda.

Keempat parameter kualitas air yang dapat diukur oleh alat ini di antaranya adalah pH, suhu, kekeruhan, dan konsentrasi logam berat timbal (Pb). Sensor yang digunakan yaitu sensor pH Meter V1.1, sensor suhu DS18B20, sensor kekeruhan, dan sensor deteksi timbal dihubungkan dengan mikrokontroler Arduino Uno sehingga data yang diterima dari bagian input akan diolah dan diteruskan ke bagian output.

Data hasil baca sensor dapat dilihat pada LCD yang terpasang pada alat atau dapat dipantau dari jarak jauh melalui mekanisme SMS Gateway atau pada aplikasi Blynk yang dapat diunduh di smartphone pengguna.

Untuk mengoperasikan alat ini pengguna hanya perlu menghubungkannya dengan sumber arus listrik DC. Kemudian, untuk mendapatkan hasil baca sensor secara realtime, pengguna harus mengirimkan pesan “mulai” ke nomor telepon yang digunakan alat, maka data hasil baca sensor akan dikirimkan melalui SMS, atau cukup dengan membuka aplikasi Blynk yang telah diunduh.

Dengan hadirnya alat ini, diharapkan pemantauan kualitas air oleh masyarakat dapat lebih mudah, cepat, dan efisien. Selain itu, Gibraltar dan teman-temannya berusaha mengembangkan WATCHER agar dapat mengukur lebih banyak parameter kualitas air dan menyesuaikan pemrograman untuk penggunaan pada kolam budidaya perikanan serta sumber air yang digunakan untuk keperluan pertanian di masa depan.

WATCHER saat ini telah mendapatkan pendanaan riset oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2021. Pelaksanaan program ini telah dimulai dari Juni 2021 dan akan berakhir pada September 2021.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian