Nonalika, Teknologi Nano Atasi Masalah Pascapanen

Deep-Tech, Sang Mesin Goreng Ajaib
Mei 16, 2016
PEREMAS, Pereduksi Emisi Gas Cerobong Asap dengan Spirulina
Mei 17, 2016

Nonalika, Teknologi Nano Atasi Masalah Pascapanen

9109b879-f70d-4469-8f65-614d631c630bAryanis Mutia Zahra (Ilmu dan Teknologi Pangan, 2012), M. Itqonul Muttaqin dan M. Wildan Makarim (Teknologi Industri Pertanian, 2015) menciptakan bahan penanganan pascapanen yang dapat meningkatkan kualitas dan umur simpan komoditas pertanian berbasis teknologi nano yang disebut “Nonalika”. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), Malang.

Dibawah bimbingan Dr. Teti Estiasih, STP., MP., ketiganya membuat Nonalika dengan bahan dasar pasir silika alam. “Kami menggunakan pasir silika yang pada dasarnya merupakan kekayaan mineral alam di Indonesia, kemudian diberi perlakuan  alkali fusion dengan pelebur natrium hidroksida maka jadinlah natrium silikat berskala nanometer,” kata Mutia. Dipaparkan Mutia, ketua tim, natrium silikat telah banyak terbukti dapat mengatasi permasalahan baik pra maupun pascapanen.

Pada penelitian, kelompoknya sengaja mengambil fokus kepada penanganan pascapanen tomat karena merupakan salah satu komoditas penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi di banyak negara dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data yang mereka dapat dari BPS, di Indonesia, tomat memiliki rata-rata peningkatan pertumbuhan produksi, harga produsen dan harga konsumen secara berturut-turut sebesar 6,27%, 12,08% dan 17,33% per tahun. “Tomat itu komoditas yang prospektif untuk dikembangkan, tapi masuk dalam jenis komoditas klimakterik yang high perishable makanya punya umur simpan relatif pendek,” tutur Mutia.

Menyinggung proses pembuatan nonalika, Mutia menjelaskan bahwa digunakan nanoteknologi melalui jalan sintesa materi berukuran nano dari partikel besar atau disebut Top Down. Setelah melewati proses pembuatan dan karakterisasi yang panjang, timnya berhasil membuat silika yang semula tidak larut air menjadi nonalika dengan ukuran 38,80 nm yang sangat larut air.

Ukuran nano pada nonalika berpeluang meningkatkan efektivitas penggunaan dan penghantaran senyawa yang lebih besar. Hal tersebut karena kemampuan menembus dinding dan ruang antar sel yang tinggi, yang hanya bisa ditembus oleh partikel nano. “Mekanisme nonalika itu dalam ukuran nano terjadi fenomena gerak brown,” jelas Mutia. Ia menambahkan, fenomena gerak brown terjadi karena adanya peningkatan luas permukaan dan berkurangnya massa tiap partikel serta afinitas dari sistem yang meningkat.

Hasilnya setelah aplikasi, didapatkan kualitas tomat yang mampu bertahan selama 2 minggu pada suhu 27-30oC dan RH 90-95% yang menggambarkan kondisi distribusi dan pasar setelah tomat dipanen. “Setelah saya simpan bahkan sampai satu bulan tomatnya masih segar, karakteristik dan hasil ujinya serupa seperti penyimpanan pada suhu dingin,” kata Mutia. Berdasarkan uji, tomat yang telah diaplikasikan nonalika dengan cara direndam, menghasilkan tekstur, bobot, warna, kerusakan relatif, kadar air, aktivitas air (Aw) dan tingkat kematangan yang masih digolongkan dalam keadaan segar.

Mutia menjelaskan bahwa nonalika memiliki kinerja langsung pada bagian dalam tomat bukan hanya sebagai pelapis, karena terpenetrasi dan bereaksi dengan pektin dan dinding sel bagian eksokarp hingga mesokarp. Selain itu, kandungan silika pada tomat hasil aplikasi nonalika tergolong aman dibawah standar LD50 (Lethal Dose 50) yang berlaku bagi silika maupun natrium silikat. “Pada tomat perlakuan terbaik, silika terserap setelah uji itu 493,51 ppm yang artinya sangat aman untuk dikonsumsi dan tidak berbahaya,” sambung Mutia.

Mutia dan tim berharap nonalika hasil penelitiannya dapat dijadikan produk komersial yang dapat meningkatkan nilai manfaat dan ekonomi bagi kekayaan mineral alam Indonesia. Selain itu juga dapat diaplikasikan secara luas untuk mengatasi permasalahan khususnya kehilangan pascpanen yang tinggi di Indonesia. “Tujuan utama kami itu dapat produk berupa artikel ilmiah dan paten serta nonalika yang mampu meningkatkan potensi tomat sebagai komoditas andalan lokal dan ekspor, walaupun selanjutnya nonalika dapat diaplikasikan secara luas pada semua komoditas baik pertanian maupun perkebunan karena cara aplikasinya mudah dan murah,” tutup Mutia. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian