Pemanfaatan Bakteriofag sebagai Pencegah Keracunan Makanan

Selamat Datang Assesor Ban-PT
Juli 1, 2015
Buka Bersama Ustadz Zainal Arifin
Juli 4, 2015

Pemanfaatan Bakteriofag sebagai Pencegah Keracunan Makanan

bakteriofag

bakteriofag berukuran 200nm

Foodborne disease atau kasus keracunan makanan adalah suatu penyakit yang ditimbulkan oleh pengkonsumsian makanan yang telah terkontaminasi mikroba patogen. Gejala yang ditimbulkan berupa mual, muntah, diare akut, sakit perut dan demam tinggi. Foodborne disease telah menjadi penyebab utama masalah kesehatan masyarakat  global yang tidak hanya terjadi di negara berkembang yang memiliki sanitasi dan hygiene yang umumnya buruk, namun juga di negara – negara maju. Salah satu peneliti, Kusumaningsih dalam jurnalnya menyatakan bahwa sebanyak 67% kasus foodborne diseases disebabkan oleh cemaran virus, 30% oleh bakteri, 3% oleh parasit.  Namun, walau cemaran bakteri hanya 30% terhadap kasus foodborne disesases, 60% diantaranya mengakibatkan wabah dan angka kematian (mortalitas) tinggi.

Salah satu mikroba patogen yang menyebabkan keracunan makanan adalah Salmonella sp. yang umum dijumpai dalam produk olahan ayam, daging ayam mentah, telur ayam, kulit dan usus ayam. Penyakit yang ditimbulkan bakteri ini disebut Salmonellosis.  Gejala yang ditumbulkan adalah mual, muntah, demam, keram perut dan diare yang berlangsung selama 3-7 hari setelah terinfeksi. Diare akut yang disebabkan oleh salmonellosis dapat menyebabkan dehidrasi hingga mengharuskan penderita dibawa ke rumah sakit. Pada kasus parah, infeksi salmonella dapat menyebar ke usus, aliran darah, serta bagian tubuh lainnya hingga dapat menyebabkankan kematian jika penanganan tidak dilakukan secara cepat dan tepat.

Terjadinya kontaminani Salmonella sp. pada ayam disebabkan oleh kurangnya sanitasi saat penyembelihan dan tidak higenisnya penanganan ayam pasca penyembelihan. Permintaan daging ayam sendiri terus meningkat terutama di Indonesia. Tercatat permintaan per kapita daging ayam ras dan buras di tahun 2012 sebesar 4,015 kg/kapita/tahun hingga menjadi 4,914 kg/kapita/tahun di tahun 2015. Namun, pengoalahan ayam pasca panen masih kurang memadai terutama di industi kecil dan menengah. Hal ini dapat meningkatkan kasus foodborne disease.

Selama ini pencegahan foodborne disease dilakukan dengan pemberian antibiotik dan bahan pengawet buatan. Pemberian antibiotik secara terus menerus dapat menyebabkan resistensi bakteri patogen sehingga harus dilakukan peningkatan dosis antibiotik. Konsumsi antibiotik yang dilakukan terus menerus dalam dosis tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang seperti kerusakan hati dan ginjal. Sehingga dalam kasus seperti ini perlu adanya alternatif lain untuk pencegahan foodborne diseases.

Bakteriofag dapat dijadikan salah satu alternatif pencegahan foodborne diseases yang efektif dan tanpa efek samping berbahaya. Bakteriofag merupakan salah satu jenis virus yang dapat membunuh bakteri. Virus ini mengandung DNA atau RNA dan protein reseptor spesifik yang cocok pada target bakteri inang sihingga kerja bakteriofag sangatlah spesifik. . Penggunaan bakteriofag yang dapat melisikan bakteri patogen saja akan menguntungkan karena tidak terganggunya bakteri baik dalam makanan.

Terdapat dua jenis daur hidup dari bakteriofag yaitu daur litik dan daur lisogenik. Daur litik merupakan keadaan dimana bakterifag akan menginfeksi bakteri inang, memasukkan materi genetik ke dalam sel bakteri dan membentuk bagian – bagian tubuhnya sehingga menyebabkan lisisnya sel bakteri. Bakterifag dengan daur hidup litik inilah yang diharapkan dapat digunakan sebagai pencegah foodborne disesases yang aman dan efektif.

Isolasi bakteriofag dilakukan dengan menggunakan sampel berupa usus ayam. Usus ayam diduga mengandung bakteriofag karena merupakan bagian tubuh hewan yang paling banyak mengandung mikroba patogen dimana mikroba patogen tersebut merupakan inang dari bakteriofag. Isolasian dilakukan dengan penghancuran usus ayam  sehingga didapatkan cairan usus ayam yang diduga mengandung bakteriofag.

Hasil yang didapat dari isolasi bakteriofag ini, mampu melisiskan bakteri patogen Salmonella sp. dan mencegah perkembangan dari E. coli. Bakteriofag dapat melisiskan bakteri inang hingga dengan pengenceran 10-7 karena bakteriofag mampu melakukan autodosing atau memperbanyak diri sesuai dengan jumlah bakteri patogen yang ada dalam suatu makan. (dse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian