RaPDe, Kertas Ajaib Pendeteksi Cepat Pestisida

G-WARS , Solusi Pintar Atasi Limbah
Mei 20, 2016
Yudisium Mei 2016
Mei 23, 2016

RaPDe, Kertas Ajaib Pendeteksi Cepat Pestisida

Prototype rapde (2)Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya, Fakultas Teknologi Pertanian mengembangkan biosensor pendeteksi pestisida dari kertas berbasis kertas pertama di Indonesia. Teknologi ini memang masih dalam tahap pengembangan, namun berpotensi membuka peluang untuk munculnya pendeteksi pestisida yang cepat, murah dan mudah digunakan.

Biosensor ini bekerja pada sistem inhibisi enzim oleh pestisida dengan indikator berupa perubahan warna. Sistem ini bukanlah hal yang baru, namun mengingat Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber daya kayu bahan baku kertas yang melimpah, penggunaan kertas untuk biosensor ini menjadi sangat potensial. Selain itu, biosensor diharapkan bisa menggantikan metode deteksi yang sebelumnya ada, seperti kromatografi yang membutuhkan banyak alat, biaya dan ketrampilan khusus. Dengan rancangan yang dibuat kecil dan mudah dioperasikan ini diharapkan bisa digunakan siapa saja dengan biaya yang murah.

Kelompok peneliti yang diketuai oleh Ratyawisnu Fahmiaji Winarto (THP 2012)  ini menggunakan enzim yang bernama asetilkolinesterase yang bisa dihasilkan oleh belut listrik. Enzim ini bisa mendegradasi asetilkolin, neurotransmitter pada otak menjadi kolin. Kolin ini lah yang selanjutnya akan merubah senyawa pewarna dalam biosensor menjadi kuning. Dengan adanya pestisida, maka reaksi degradasi tadi bisa dihambat dan menyebabkan tidak terjadinya perubahan warna. Hal inilah yang selanjutnya menjadi dasar penentuan ada tidaknya pestisida pada sampel

Pengembangan ini terinspirasi oleh besarnya potensi sector pertanian di Indonesia yang sering kali tidak diimbangi dengan proses produksi yang baik. Salah satu permasalahan utama adalah penggunaan pestisida yang tidak terkontrol. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan. Pada kasus yang ekstrim, konsumsi sayuran berpestisida dapat menyebabkan permasalahan neurologis, seperti kecemasan, hilangnya memori hingga meningkatnya potensi terjangkit penyakit Alzheimer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian