SINERGI KEBIJAKAN PANGAN DAN BIO-ENERGI

FroYo BiMa, Jajanan Sehat Kreasi Mahasiswa FTP
Juni 1, 2012
Himateta FTP Gagas Semnas Agricultural Engineering Event 2012
Juni 7, 2012

SINERGI KEBIJAKAN PANGAN DAN BIO-ENERGI

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia agar dapat mempertahankan hidup. Secara global, permasalahan di sector pangan muncul karena pertumbuhan permintaan pangan tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan penyediaannya. Desentralisasi proses pengolahan produk pertanian merupakan alternative langkah menyelesaikan permasalahan di sector pangan. Karena dipandang dapat mensinergikan kepentingan kedaulatan pangan, bio-energi dan lingkungan. Demikian dikatakan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), Dr. Ir. Bambang Susilo, M. Agr. Sc saat memberikan kuliah tamu kepada ratusan mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas  Padjajaran, Bandung saat berkunjung ke FTP UB, Sabtu, (12/5) lalu.

“Kecukupan pangan bagi setiap orang merupakan hak azasi yang layak dipenuhi. Untuk meningkatkan kapasitas penyediaan pangan perlu dilakukan upaya desentralisasi pengolahan produk pertanian yang merupakan basis industrialisasi pertanian,” tegas dosen Jurusan Keteknikan tersebut.

Dipaparkan dosen peraih Civa Award sebagai dosen terfavorit Jurusan TEP ini, ide tersebut juga pernah dipaparkan saat seminar internasional di Brazil, 2011 lalu. Menurutnya, dengan desentralisasi pengolahan Produk Pertanian akan ada penggunaan teknologi dan meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian.

“Desentralisasi pengolahan produk pertanian dapat mengoptimalkan peran petani sebagai penghasil produk pertanian dan pemerataan kesejahteraan,” lugasnya.

Seperti yang telah dijalankannya pilot project industry pembuat chips Modified Cassava Flour Production atau biasa disebut Mocaf di Trenggalek sejak tahun 2006. Menurutnya, terbentuknya cluster-cluster produsen chips mocaf dapat meningkatkan kapasitas produksi mocaf sebagai salah satu bahan pangan.

Sedangkan untuk pemerataan kesejahteraannya, diilustrasikannya, saat ini telah ada 76 cluster, dimana satu Cluster industry saja dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 1236 orang. Jumlah penyerapan tenaga kerja yang relative tinggi tersebut diharapkan meningkatkan pemerataan kesejahteraan khususnya para petani yang acapkali terpinggirkan.

Dipaparkanya, pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia agar dapat mempertahankan hidup. Secara global, permasalahan di sector pangan muncul karena pertumbuhan permintaan pangan tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan penyediaannya. Tingginya pertumbuhan permintaan pangan  yang melampaui percepatan penyediaan pangan tersebut, dipengaruhi beberapa factor. Antara lain, peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat dan adanya perubahan selera.

“Sedangkan pada ranah nasional, permasalahan pangan di indikasikan dengan beberapa permasalahan. Sebut saja, problem kapasitas produksi pangan nasional yang belum maksimal meskipun melimpahnya potensi sumber daya alam yang tersedia di Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, imbuhnya, adanya ketidakseimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional sehingga terjadi gap. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, di ungkapkan Bambang lebih lanjut, biasanya pemerintahan mengambil langkah kebijakan yang bersifat instan dan praktis yakni dengan mengimpor pangan dari luar negeri. Dan tanpa disadari kebijakan impor pangan dari luar negeri menjadi polemic lantaran kebijakan tersebut  mengakibatkan masalah baru yakni ketergantungan terhadap pangan impor.

Belum lagi permasalahan kompleksitas alur jaringan distribusi pangan baik skala ruang yang berkaitan erat dengan infrastruktur dan transportasi, maupun menurut skala ruang yang terkait teknologi dan pengolahan pangan.  Namun, bila ditarik benang merah, sebenarnya masalah pemenuhan kebutuhan pangan bergantung dari kebijakan pangan bagi pemerintahan suatu negara.

Sebenarnya, papar Bambang lebih dalam, kompleksitas permasalahan pangan tersebut dapat diatasi jika semua pihak bersinergi dan memberikan sumbasih untuk menyelesaikannya. Seperti kalangan Institusi akademika yang memberikan keilmuannya dan teknologi, pengusaha yang mendukung permodalan, pemerintahan dengan kebijakan yang mendukung serta komunitas petani sebagai motor penggerak dilapangan tersebut saling berkerjasama.Seperti halnya proyek cluster Mocaf di Trenggalek yang merupakan hasil sinergi peran  pemda, peneliti atau intitusi akademik, pengusaha kelompok usaha dan petani. (elr)

Dr. Ir. Bambang Susilo, M. Agr. Sc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian