Suplemen Otak Berbahan Limbah Pengalengan Ikan

Fermentasi Sari Pisang Hasilkan Omega 3 dan Omega 6
Juni 9, 2016
Jadikan Ramadhan Transformasi Ikhlas
Juni 16, 2016

Suplemen Otak Berbahan Limbah Pengalengan Ikan

Pengalengan ikan di Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah China dan Peru sebagai negara penghasil ikan laut tangkapan (FAO, 2010). Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011, di Indonesia terdapat sekitar 114 perusahaan pengalengan ikan dengan jumlah produksi 3.500 ton kaleng pertahun. Dengan jumlah yang sedemikian besar sehingga limbah sisa proses pengolahan yang dihasilkan juga banyak dan sering menimbulkan masalah lingkungan. Salah satu dampak negatifnya adalah limbah buangan berupa limbah cair maupun limbah padat. Limbah cair dari proses pengalengan ikan berasal dari air proses pencucian dan sisa pemanasan yang berdampak negative bagi sekitarnya. Limbah cair tersebut memiliki kandungan minyak ikan yang dapat dimanfaatkan kembali. Hal itulah yang mendorong lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya untuk mengembangkan suatu penelitian, yaitu pembuatan nanoemulsifikasi minyak hasil samping pengalengan ikan untuk meningkatkan penyerapan DHA sebagai nutrisi otak. Lima mahasiswa tersebut adalah Rinda Kusumawati, Erna Triyastanti, Nafisa Rahma Triasanti, Ismatul Avidah, Salma Nasikhah Banin ingin meneliti dan menguji seberapa besar efektivitas nanoemulsifikasi minyak ikan dengan menggunakan pengujian hewan coba tikus wistar, selanjutnya akan diaplikasikan pada manusia.

“Selama ini, jumlah limbah sisa proses pengolahan yang dihasilkan cukup banyak dan menimbulkan masalah lingkungan” ungkap Erna selaku anggota penelitian.  Alasan melakukan penelitian ini adalah Indonesia merupakan salah satu negara yang didominasi dengan perairan. Luas perairan Indonesia menyebabkan melimpahnya hasil perikanan saat ini. Hal ini menyebabkan adanya suatu pemikiran untuk mengolah ikan menjadi bahan pangan yang awet. Oleh karena itu, saat ini banyak sekali berdiri industry pengolahan ikan, salah satunya adalah industri pengalengan ikan (Dewi, 2013). Selain itu, Minyak ikan adalah salah satu sumber suplai makanan terbaik berupa asam lemak. Minyak ikan kaya akan kandungan ώ-3 seperti EPA (Eicosapentanoic acid ) dan DHA (Docosahexanoic acid) yang berperan sangat penting bagi kesehatan. Berdasarkan studi epidemologi menunjukkan ώ-3 baik untuk perkembangan bayi, kanker, jantung, dan perkembangan otak (Riediger dalam Sahena, 2010). .DHA diperlukan sebagai unsur pembentuk cawan untuk wadah rhodopsin yaitu senyawa vital penginderaan dan pengiriman balik sinyal yang diterima mata ke otak. Docosahexaenoic acid (DHA) merupakan unsur nutrisi yang juga penting dalam tumbuh kembang dan perkembangan saraf di otak dan membantu pembentukan jaringan lemak otak (mylenisasi) serta menjaga interkoneksi sel-sel syaraf otak terutama untuk mempengaruhi perkembangan otak (Angela dalam Diana, 2012).

Dalam melakukan penelitian ini, ada beberapa kendala yang mereka hadapi, seperti kendala waktu karena harus bisa membagi waktu antara kuliah dan penelitian. Akan tetapi dengan kerja tim yang bagus, kendala tersebut mampu mereka hadapi dengan baik. Penelitian yang sudah mencapai lebih dari 80 % ini diharapkan dapat menjadi alternatif dan referensi terbaru dalam mengembangkan metode pengawetan ikan lemuru yang sesuai. “Semoga penelitian kami ini dapat menjadi sumber referensi untuk membantu menyelamatkan ikan lemuru di Indonesia, ‘ ungkap Nafisa Rahma, salah satu anggota penelitian ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian