YUDHISTIRA 39, Pengemas Pintar dan Aktif Karya Mahasiswa UB

Mahasiswa FTP Sulap Limbah Botol Plastik jadi Tirai Pengusir Nyamuk
Mei 29, 2015
HI-GREAT 2015
Mei 29, 2015

YUDHISTIRA 39, Pengemas Pintar dan Aktif Karya Mahasiswa UB

yudhistiraTingginya nutrisi dan kadar air dalam daging ayam menyebabkan daging ayam mudah ditumbuhi oleh bakteri pembusuk dan patogen. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak, sehingga daging ayam mudah mengalami kerusakan. Kerusakan ayam terkadang sulit diketahui jika ayam tersebut dikemas, sehingga masyrakat kesulitan untuk mengidentifikasi  kondisi ayam tersebut. Hal tersebut yang melatarbelakangi ketiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Ulul Musyhidah (THP 2012), Rosyid Ulil Albab (THP 2010) dan Ina Nur Anisa (TEP 2012) dan satu orang mahasiswa Fakultas Teknik  Satrio Pung Cahyo (Teknik Mesin 2012) Universitas Brawijaya  dibawah bimbingan Nur Ida Panca STP. MP. menciptakan sebuah inovasi pengemas daging ayam berupa “Yudhistira 39” (Herbal Smart and Active Packaging) yang diterapkan pada RPA Soleh Broiler Dsn. Pundensari RT 03 RW 01 Desa Jeblog Kec. Talun  Kabupaten  Blitar  melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) DIKTI 2015.

Rumah Potong Ayam (RPA) Soleh Broiler menjual ayam potong jenis ayam Ras, ayam tersebut dijual langsung ke konsumen dan dipasarkan oleh para tengkulak di pasar tradisional. RPA Soleh Broiler merupakan salah satu RPA  yang berada di Desa Jeblog Kec. Talun  Kabupaten  Blitar dan mampu menjual ayam potong rata-rata 1.000 kg/hari.  Akan tetapi ayam tersebut jika sudah dipotong dan dibawa ke pasar tidak selalu terjual habis dalam waktu 1 hari, selain itu kondisi ayam yang tidak dikemas saat dijual di pasar menyebabkan daging ayam mudah terkontaminasi secara fisik, kimia dan biologi. Ayam yang tidak laku terjual dalam satu hari disimpan dalam freezer yang selanjutnya dapat dijual keesokan harinya. Namun ayam yang disimpan tanpa teknologi penyimpanan yang tepat dapat menghasilkan bau yang kurang sedap karena telah terpapar cukup lama saat dipasar, sehingga harga ayam potong menjadi turun. Selain itu, tanpa adanya teknologi pengemasan yang tepat akan menyebabkan penampakan daging ayam yang kurang baik yang dapat menyebabkan konsumen kurang menyukai daging ayam tersebut. Akibatnya, para penjual di pasar sering menurunkan harga agar ayam dapat segera habis.

“Yudhistira 39” merupakan teknologi pengemasan daging ayam yang mampu mengatasi permasalahan mitra. “Yudhistira 39” ini merupakan teknologi smart and active packaging dimana terdapat indikator yang mampu berubah warna apabila kondisi ayam sudah tidak baik dan dilengkapi dengan active packaging yang dapat mempertahankan kualitas serta memperpanjang umur simpan daging ayam  yang terbuat dari bahan alami, sehingga daging ayam yang berada di pasar tradisional dapat bersaing dengan supermarket maupun dengan perubahan situasi ekonomi pada AEC 2015 mendatang.

Setelah melakukan sosialisasi (25/05/2015), tim PKM-T mulai menerapkan Yudhistira 39,  diharapkan dengan adanya “Yudhistira 39” ini dapat menghasilkan produk daging ayam yang  berkualitas dan higienis serta mampu mendeteksi kerusakan pada daging ayam sebelum jatuh ke pihak konsumen yang membelinya. Dengan adanya ayam yang berkualitas dan dipadukan dengan sentuhan teknologi kemasan smart and active ini sehingga mampu bersaing menjadi produk daging ayam segar unggulan di ASEAN Economic Community yang kita tahu bahwa di Indonesia masih sangat jarang penerapan smart and active packaging.

Rumah Potong Ayam (RPA) Soleh Broiler menjual ayam potong jenis ayam Ras, ayam tersebut dijual langsung ke konsumen dan dipasarkan oleh para tengkulak di pasar tradisional. RPA Soleh Broiler merupakan salah satu RPA  yang berada di Desa Jeblog Kec. Talun  Kabupaten  Blitar dan mampu menjual ayam potong rata-rata 1.000 kg/hari.  Akan tetapi ayam tersebut jika sudah dipotong dan dibawa ke pasar tidak selalu terjual habis dalam waktu 1 hari, selain itu kondisi ayam yang tidak dikemas saat dijual di pasar menyebabkan daging ayam mudah terkontaminasi secara fisik, kimia dan biologi. Ayam yang tidak laku terjual dalam satu hari disimpan dalam freezer yang selanjutnya dapat dijual keesokan harinya. Namun ayam yang disimpan tanpa teknologi penyimpanan yang tepat dapat menghasilkan bau yang kurang sedap karena telah terpapar cukup lama saat dipasar, sehingga harga ayam potong menjadi turun. Selain itu, tanpa adanya teknologi pengemasan yang tepat akan menyebabkan penampakan daging ayam yang kurang baik yang dapat menyebabkan konsumen kurang menyukai daging ayam tersebut. Akibatnya, para penjual di pasar sering menurunkan harga agar ayam dapat segera habis.

“Yudhistira 39” merupakan teknologi pengemasan daging ayam yang mampu mengatasi permasalahan mitra. “Yudhistira 39” ini merupakan teknologi smart and active packaging dimana terdapat indikator yang mampu berubah warna apabila kondisi ayam sudah tidak baik dan dilengkapi dengan active packaging yang dapat mempertahankan kualitas serta memperpanjang umur simpan daging ayam  yang terbuat dari bahan alami, sehingga daging ayam yang berada di pasar tradisional dapat bersaing dengan supermarket maupun dengan perubahan situasi ekonomi pada AEC 2015 mendatang.

Setelah melakukan sosialisasi di Soleh Broiler, Senin (25/05/2015), tim PKM-T mulai menerapkan Yudhistira 39,  diharapkan dengan adanya “Yudhistira 39” ini dapat menghasilkan produk daging ayam yang  berkualitas dan higienis serta mampu mendeteksi kerusakan pada daging ayam sebelum jatuh ke pihak konsumen yang membelinya. Dengan adanya ayam yang berkualitas dan dipadukan dengan sentuhan teknologi kemasan smart and active ini sehingga mampu bersaing menjadi produk daging ayam segar unggulan di ASEAN Economic Community yang kita tahu bahwa di Indonesia masih sangat jarang penerapan smart and active packaging.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian